Rumahnya rusak dan seluruh harta bendanya hilang. Namun alih-alih menyerah, Nurbaeti justru terlibat aktif membantu warga dengan membuka dapur umum dan menyalurkan bantuan.
“Saya merasa hati saya justru pulih ketika masih bisa membantu orang lain,” katanya.
Di Sumatera Barat, kisah ketangguhan juga datang dari Evi, seorang ibu dengan disabilitas yang aktif dalam jaringan kemanusiaan. Dalam situasi banjir bandang, ia tidak hanya menyelamatkan keluarganya tetapi juga membantu warga sekitar dengan menghubungi jaringan relawan agar bantuan segera datang.
Di tengah berbagai kisah ketangguhan tersebut, PERMAMPU juga menyoroti lemahnya kesiapsiagaan pemerintah dalam menghadapi bencana yang terus berulang di Sumatera.
Banjir yang terjadi di Kampar dan Rokan Hilir misalnya, sudah dianggap sebagai siklus lima tahunan oleh masyarakat. Namun hingga kini, langkah mitigasi dinilai belum dilakukan secara serius.
Ironisnya, di Aceh pemerintah masih menerbitkan lebih dari 20 izin pengolahan lahan hutan meskipun wilayah tersebut sedang menghadapi situasi bencana.
Minimnya perhatian pemerintah juga tercermin dari pengalaman MZ, seorang perempuan muda di Tapanuli Tengah yang meminta bantuan untuk mengevakuasi orang tuanya dari longsor.
“Kami dianggap tidak terlalu penting karena jumlah korban di tempat kami sedikit,” ujarnya.
PERMAMPU juga menilai bahwa pemerintah pusat belum menjadikan bencana di Sumatera sebagai prioritas nasional. Hal itu terlihat dari kecilnya alokasi anggaran rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana yang hanya Rp56 triliun dari Rp205 triliun yang diusulkan.
Melalui momentum Hari Perempuan Sedunia ini, PERMAMPU bersama jaringan organisasi perempuan di Sumatera menyerukan penguatan kesiapsiagaan bencana berbasis komunitas dengan pelibatan aktif perempuan dan kelompok rentan.
Mereka juga mendesak pemerintah pusat dan daerah untuk lebih serius menangani bencana ekologis melalui kebijakan mitigasi yang kuat, konservasi hutan, serta alokasi anggaran yang berpihak pada pemulihan masyarakat terdampak.
Bagi PERMAMPU, pengalaman perempuan akar rumput menunjukkan satu hal penting: di tengah bencana, perempuan bukan hanya penyintas, tetapi juga pemimpin perubahan.












