AdvetorialBeritaNasional

Saat Bencana Melanda, Perempuan Sumatera Berdiri di Garda Terdepan

39
×

Saat Bencana Melanda, Perempuan Sumatera Berdiri di Garda Terdepan

Sebarkan artikel ini

Saat Bencana Melanda, Perempuan Sumatera Berdiri di Garda Terdepan (P/E: Yos.Asw)

MEDAN, LIPUTANSATU.COM, – Di balik deru banjir, longsor, dan berbagai bencana yang melanda Sumatera, lahir kisah-kisah ketangguhan perempuan yang jarang disorot. Melalui peringatan Hari Perempuan Sedunia pada 7 Maret 2026, Konsorsium PERMAMPU bersama jaringan organisasinya mengangkat pengalaman kepemimpinan perempuan dalam menghadapi bencana.

Peringatan yang digelar secara hybrid ini diikuti oleh 312 peserta dari 10 provinsi di Pulau Sumatera, dengan mayoritas peserta adalah perempuan. Mereka berasal dari berbagai organisasi anggota dan jaringan PERMAMPU yang selama ini aktif mendampingi komunitas perempuan di tingkat akar rumput.

Kegiatan ini mengangkat tema “Berbagi dan Belajar Bersama – Pengalaman dan Penelitian Aksi Kepemimpinan Perempuan dalam Penanganan Bencana untuk Pemenuhan Hak Perempuan Marginal dan Keadilan Gender.”

Tema tersebut menjadi refleksi bahwa dalam situasi bencana, perempuan tidak hanya hadir sebagai korban, tetapi juga sebagai pemimpin, penggerak solidaritas, sekaligus penjaga keberlangsungan kehidupan komunitas.

Perwakilan INKLUSI, Ela Hasanah, dalam sambutannya menegaskan bahwa pengakuan terhadap kepemimpinan perempuan dalam situasi bencana sangat penting.

“Partisipasi perempuan adalah kunci dalam membangun sistem penanganan bencana yang inklusif dan berkelanjutan,” ujarnya.

PERMAMPU menyoroti bahwa perempuan dan kelompok rentan sering menghadapi dampak bencana yang lebih kompleks. Lansia, penyandang disabilitas, ibu hamil, ibu menyusui, hingga kelompok minoritas kerap menjadi kelompok yang paling terdampak namun paling sedikit mendapat perhatian.

Di sisi lain, respons penanganan bencana masih cenderung seragam dan belum sepenuhnya memperhatikan kebutuhan spesifik kelompok rentan.

Melalui kerja-kerja komunitas, PERMAMPU berupaya menghadirkan pendekatan yang lebih responsif, mulai dari pengumpulan data terpilah, penyaluran bantuan kebutuhan spesifik perempuan, hingga dukungan pemulihan trauma bagi korban bencana.

Kisah nyata dari lapangan menunjukkan bagaimana perempuan memainkan peran penting dalam situasi krisis.

Nurbaeti, staf lapangan Flower Aceh yang juga menjadi korban banjir di Aceh Tamiang, menceritakan pengalaman dramatis ketika banjir datang menghantam desanya. Ia harus menyelamatkan anak kembar dan kedua orang tuanya, sementara dirinya terpisah dari suami.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *