Argumentasi klasik para pendukung tambang selalu tentang lapangan kerja dan pemasukan daerah. Namun, pertanyaannya: seberapa besar kontribusi riil penambangan ilegal dan semirakyat ini terhadap PAD? Siapa yang paling menikmati keuntungannya? Seringkali, yang kaya adalah bandar dan pengumpul, sementara masyarakat lokal hanya mendapat sisa-sisa, dengan risiko kehilangan lingkungan hidup mereka untuk selamanya. Ini bukan kemakmuran, melainkan kemakmuran semu yang dibayar dengan aset berharga anak cucu.
Jalan keluar memerlukan tindakan terpadu: hentikan total penambangan di pesisir, reklamasi serius ekosistem yang rusak, diversifikasi ekonomi ke sektor berkelanjutan seperti pariwisata dan perikanan, serta libatkan masyarakat sebagai mitra pengawas.
Waktu semakin sempit. Setiap hari, lubang tambang di Pasir Padi semakin dalam, mengikis bukan hanya tanah, tetapi juga harapan. Saatnya kita memilih: antara sisa-sisa timah di lubang gelap, atau pantai cerah yang bisa dinikmati oleh generasi-generasi Bangka Belitung mendatang. Pilihannya ada di tangan kita, sekarang.







