By: Firza Anandya Astri, Jurusan:Sastra Inggris
OPINI, LIPUTANSATU.COM,— Penambangan timah di Pantai Pasir Padi adalah potret nyata dari paradoks pembangunan yang memakan diri sendiri. Di satu sisi, timah telah menjadi nadi ekonomi masyarakat Bangka Belitung selama berabad-abad, menyokong kehidupan banyak keluarga. Namun, di sisi lain, cara eksploitasi yang destruktif dan berjangka pendek justru mengancam pondasi keberlanjutan pulau ini.
Dampaknya multidimensi dan sudah berada di tingkat yang mengkhawatirkan. Pertama, kerusakan ekologis bersifat permanen. Penambangan di pantai menghancurkan ekosistem pesisir, mengikis garis pantai, dan menyebabkan abrasi yang parah. Sedimen yang dilepaskan membunuh terumbu karang dan merusak biota laut. Kedua, ancaman sosial. Hilangnya Pantai Pasir Padi sebagai ruang publik, tempat rekreasi, dan simbol budaya adalah kehilangan yang tak ternilai. Masyarakat kehilangan “ruang bernapas” dan identitas kolektif mereka. Ketiga, kerentanan ekonomi jangka panjang. Ketika timah habis, yang tersisa adalah daratan terluka yang tidak layak untuk pariwisata, pertanian, atau permukiman. Kita menggadaikan potensi pariwisata bahari yang berkelanjutan demi keuntungan tambang yang sesaat.






