Sementara itu, bantuan sumur bor menjadi jawaban atas kebutuhan mendasar. Dengan jumlah penghuni mencapai ratusan, akses air bersih menjadi hal krusial.
“Kalau air cukup, semua kegiatan jadi lebih mudah,” ujar salah satu petugas lapas.
Kepala Lapas, Sugeng Indrawan, menyambut baik dukungan tersebut.
“Ini menjadi motivasi bagi warga binaan. Mereka merasa diperhatikan dan dipercaya,” katanya.
Dalam percakapan internal, ia juga menambahkan,
“Ketika mereka merasa dipercaya, di situlah perubahan mulai terjadi.”
Peresmian yang ditandai dengan seremoni sederhana itu menyimpan pesan yang kuat: bahwa tempat ini bukan akhir, melainkan ruang untuk memulai kembali.
Dari limbah yang diolah, dari air yang mengalir, hingga dari kepercayaan yang diberikan—semuanya bermuara pada satu hal: harapan.
Dan di Tuatunu, harapan itu kini sedang tumbuh.












