“Tidak ada lagi ruang untuk dikotomi. Perusahaan adalah rumah bersama, dan setiap tantangan adalah tanggung jawab kolektif,” tegasnya.
Di momentum May Day, ia mengajak seluruh elemen perusahaan menjadikan Hari Buruh sebagai simbol persatuan.
“Ini bukan sekadar perayaan, tetapi titik awal untuk memperkuat kebersamaan demi mewujudkan harapan negara sebagai pemegang saham,” katanya.
Ketua Ikatan Karyawan Timah (IKT), Riki Febriansyah, menegaskan bahwa pekerja dan perusahaan adalah dua sisi yang tidak terpisahkan.
“Hubungan ini harus dijaga dalam keseimbangan. Tanpa pekerja, perusahaan tidak ada. Tanpa perusahaan, pekerja juga tidak bisa berkembang,” ujarnya.
Ia menilai komunikasi yang terbangun selama ini menjadi fondasi penting dalam menciptakan hubungan yang semakin harmonis. Karena itu, forum LKS Bipartit didorong untuk terus dioptimalkan sebagai ruang dialog dan solusi bersama.
Sementara itu, Ketua Persatuan Karyawan Timah (PKT), Ahmad Tarmizi, melihat harmonisasi sebagai kekuatan utama untuk menjaga stabilitas dan keberlanjutan perusahaan.
“Kami percaya, ketika perusahaan tumbuh, kesejahteraan karyawan juga ikut meningkat. Karena itu, kami mendukung pencapaian target perusahaan,” katanya.
Pada akhirnya, satu hal menjadi benang merah: perusahaan dan pekerja bukan dua entitas yang berhadapan, melainkan dua kekuatan yang berjalan seiring. Dan dari sanalah, masa depan yang berkelanjutan dibangun.












