Tantangan terbesar adalah bagaimana menyeimbangkan kebutuhan ekonomi dan gaya hidup modern dengan keberlanjutan lingkungan serta budaya lokal. Cafe memang membuka peluang kerja dan ekonomi baru, tetapi jika hanya berorientasi pada estetika semu, maka keberlanjutan kota akan terancam.
Pertumbuhan cafe di Pangkalpinang adalah cermin perubahan zaman. Namun, jika estetika hanya dijadikan komoditas tanpa memperhatikan dampak sosial dan lingkungan, maka wajah kota akan kehilangan jati dirinya. Estetika seharusnya memperindah, bukan merusak. Saatnya pemilik usaha, pemerintah, dan masyarakat bersama-sama menjaga keseimbangan antara gaya hidup modern dan keberlanjutan kota. Pangkalpinang tidak boleh hanya indah di foto, tetapi harus tetap nyaman, berbudaya, dan berkelanjutan bagi seluruh warganya.
Fenomena ini dapat dikaitkan dengan agenda United Nations Sustainable Development Goals (SDGs). Pertumbuhan cafe yang tidak terkendali berhubungan dengan Responsible Consumption and Production (SDG 12), yang menekankan pentingnya pengurangan limbah dan konsumsi berkelanjutan. Selain itu, fenomena ini juga terkait dengan Climate Action (SDG 13), karena penggunaan energi berlebihan dan minimnya pengelolaan limbah berkontribusi terhadap perubahan iklim.
Menurut hasil dari wawancara salah satu pegawai café Keramaian Pengunjung (terutama Jam Sibuk) di kota besar, cenderung sangat ramai pada jam sibuk, yaitu sore hingga malam hari (16.00-20.00) dan akhir pekan. Konsep coffee to go yang menargetkan pelanggan praktis juga membuat arus pengunjung cepat berganti, menciptakan tingkat turnover yang tinggi. Gelas Plastik (Cup Plastik): Masih mendominasi untuk minuman dingin/es karena murah dan transparan. Gelas Kertas (Paper Cup): Umum digunakan untuk minuman panas. Penggunaan kedua jenis plastik dan kertas ini sangat tinggi, menjadikan kafe penyumbang sampah kemasan signifikan. Kaca/Keramik: Digunakan untuk pelanggan yang dine-in di area kafe.
Hal ini berpotensi meningkatkan harga jual produk, namun konsumen modern cenderung menerima biaya tambahan tersebut selama kafe berkomunikasi secara transparan mengenai upaya keberlanjutan mereka. Pihak tersebut bertanggung jawab mengolah limbah menjadi kompos atau mendaur ulang sampah plastik menjadi barang berguna. Beberapa kafe mulai menerapkan kebijakan diskon atau poin tambahan jika pelanggan membawa tumbler sendiri. Di beberapa wilayah, ada kebijakan penggunaan wadah biodegradable (ramah lingkungan) atau kebijakan pembatasan plastik sekali pakai di layanan pesan antar makanan.
Oleh karna itu solusi yang dapat ditempuh yaitu dengan penataan zonasi usaha oleh pemerintah daerah agar café tidak berdiri sembarangan di kawasan permukiman selain itu pemerintah juga mendorong pemilik café perlu untuk mengadopsi konsep ramah lingkungan seperti mengurangi penggunaan plastik, menggunakan bahan yang mudah terurai, dan memanfaatkan tumbler pribadi secara efesien dalam menglola limbah plastik dengan baik. Masyarakat juga harus lebih kritis dalam memilih gaya hidup, mendukung usaha yang berakar pada budaya lokal, serta tidak terjebak dalam komsumsi semu yang hanya menonjolkan estetika.







