OPINI

ESTETIKA YANG MERUSAK : SISI GELAP PERTUMBUHAN CAFE DI KOTA PANGKALPINANG

16
×

ESTETIKA YANG MERUSAK : SISI GELAP PERTUMBUHAN CAFE DI KOTA PANGKALPINANG

Sebarkan artikel ini

Oleh : Aurania Rahmah, Gea Chandra Feriska, Resa Nabila.

Mahasiswa Ilmu Politik UBB

OPINI, LIPUTANSATU.COM, —- Perkembangan Cafe di Kota Pangkalpinang selama beberapa tahun terakhir memberikan tampilan baru bagi kota ini. Desain interior yang Instagramable, dengan menu kekinian, dan suasana santai menjadi daya tarik utama bagi anak muda. Namun di balik kilauan lampu dan dekorasi yang indah, tersembunyi sisi gelap yang mulai mengkhawatirkan masyarakat, pengaturan ruang kota terganggu, polusi visual semakin meningkat, ketidakadilan sosial terasa, dan dampak lingkungan mulai diacuhkan. Pendirian pesat Café di Kota Pangkalpinang sering kali mengorbankan identitas lokal demi estetika yang seragam. Banyak Café mengadopsi gaya industrial atau minimalis modern yang mirip dengan kota-kota besar lainnya, sehingga mengabaikan arsitektur khas Bangka Belitung. Tidak jarang Café didirikan di kawasan pemukiman masyarakat yang padat, sehingga menimbulkan gangguan kenyamanan bagi masyarakat setempat.

Membludaknya café di Kota Pangkalpinang munculnya penggunaan wadah sekali pakai seperti botol minum plastik, gelas plastik dan sedotan sekali pakai. Hampir setiap hari café-café baru memproduksi ratusan hingga ribuan minuman dengan kemasan plastik yang langsung dibuang setelah digunakan. Hal ini menambah sampah kota yang sudah tinggi dan makin membludak, sebagian besar berakhir di tempat pembuangan akhir tanpa proses daur ulang yang memadai. Kondisi ini semakin memperburuk pencemaran lingkungan sekitar kita, terutama di daerah pesisir Pangkalpinang yang retan terhadap sampah plastik yang terbawa sungai.

Bahan plastik membutuhkan waktu ratusan tahun untuk terurai sehingga setiap gelas minuman yang di komsumsi meninggalkan jejak ekologis yang panjang. Ironisnya etetika yang ditawarkan café sering kali berlawanan dengan kenyataan interior indah dan instagramable tetapi dibaliknya terdapat tumpukan sampah plastik yang merusak lingkungan. Masalah utama fenomena ini adalah ketidakseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan tata ruang kota. Ahli fungsi lahan yang tidak terencana membuat kawasan pemukiman masyarakat berubah menjadi area komersial, sehingga menimbulkan kemacetan dan masalah parkiran, ini menimbulkan ketidaknyamanan antar sosial. Ketika café tidak memiliki sistem pengelolaan limbah yang baik beban akhirnya ditanggung oleh masyarakat dan pemerintah daerah.

Pemerintah daerah memiliki peran penting dalam memastikan pertumbuhan café berjalan seimbang dengan tata ruang kota. Pemerintah diharapkan dapat menyusun regulasi yang jelas, memperketat izin pendirian usaha, serta mengawasi dampak lingkungan yang ditimbulkan. Pemilik usaha café diharapkan tidak hanya berorintasi pada keuntungan semata tetapi juga turut menjaga keberlanjutan dengan mengurangi penggunaan plastik sekali pasang dan mengelola limbah dengan baik. Sementara itu, masyarakat sebagai kosumen diharapkan dapat bersikap bijak dalam memilih tempat dan gaya hidup, mendukung usaha yang ramah lingkungan serta tetap menghargai identitas lokal Pangkalpinang. Dengan adanya sinergi antara pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat pertumbuhan café dapat memberikan manfaat tanpa mengorbankan kenyamanan, budaya dan keberlanjutan kota.

Pertumbuhan cafe yang pesat meningkatkan konsumsi energi listrik, penggunaan pendingin ruangan, serta produksi sampah plastik sekali pakai. Hal ini menambah beban ekologis kota yang sebelumnya sudah menghadapi tantangan pengelolaan sampah. Jika tidak diatasi, kualitas udara, kebersihan lingkungan, dan kenyamanan hidup masyarakat akan semakin menurun.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *