Dian membesarkan anaknya di Surabaya seorang diri. Perjalanan hidupnya tidak mudah.
“Awalnya mereka sempat bersama di Bandung, tapi tidak direstui keluarga karena perbedaan agama,” ungkap sumber tersebut.
Dari situ, hidup Dian berubah. Ia menjadi ibu sekaligus ayah bagi anaknya.
Dalam sejumlah percakapan yang ditunjukkan kepada wartawan, terlihat bagaimana Dian berulang kali meminta bantuan—terutama saat kondisi mendesak.
“Anak lagi sakit, saya benar-benar butuh bantuan,” tulis Dian dalam salah satu pesan.
Jawaban yang datang tak selalu cepat. Bahkan ketika bantuan diberikan, jumlahnya tidak menutupi kebutuhan.
“Saya bukan tidak mau berjuang,” ujar Dian.
“Tapi ada saatnya saya benar-benar tidak mampu sendiri.”
Ia menarik napas panjang sebelum melanjutkan,
“Anak ini juga butuh figur ayah, bukan hanya nama.”
Saat dikonfirmasi, Adi Irawan menutup rapat pernyataan.
“Tidak ada komentar,” katanya singkat.
“Kalau masih mau bekawan.”
Di tengah gema takbir, kisah ini menjadi pengingat: bahwa tanggung jawab tidak mengenal jabatan, dan seorang anak tidak bisa menunggu terlalu lama untuk haknya dipenuhi.












