“Kami tidak hanya dibantu, tetapi juga dikuatkan. Identitas kami dijaga, ekonomi kami didorong,” ujarnya.
Bupati Bangka, Fery Insani, melihat peran PT TIMAH sebagai penggerak perubahan yang nyata. Pembangunan homestay di kawasan adat menjadi bukti bahwa budaya dan ekonomi bisa berjalan beriringan.
“Ini bukan sekadar CSR, ini investasi sosial yang berdampak. Circular economy di sini benar-benar hidup,” ungkapnya.
Dukungan tersebut juga mendapat apresiasi dari Wakil Bupati Syahbudin dan Anggota DPRD Bangka, Ruslina, yang menilai sinergi ini harus terus diperkuat demi keberlanjutan budaya.
Hari ini, Nujuh Jerami bukan hanya milik masyarakat Mapur. Ia telah menjadi wajah kearifan lokal yang terbuka bagi dunia—sebuah ruang di mana tradisi, ekonomi, dan masa depan bertemu dalam satu harmoni.
Di tengah perubahan zaman, kisah Mapur mengajarkan satu hal: menjaga tradisi bukan berarti menolak kemajuan, melainkan memastikan bahwa akar tetap kokoh saat dunia terus bergerak maju.












