Oleh: Ihsan Adam Dewindra, S.H.
Videografer & Mahasiswa Magister Kenotariatan, Universitas Islam Sultan Agung
OPINI, LIPUTANSATU.COM, —- Pertanyaan ini mengemuka dalam perkara yang melibatkan Amsal Sitepu, seorang videografer yang dikaitkan dengan dugaan tindak pidana korupsi dalam proyek pembuatan video profil desa.
Dalam pledoinya, Amsal menyampaikan bahwa terdapat sejumlah komponen pekerjaan yakni ide, konsep, penggunaan clip on (microphone), cutting, editing, dan dubbing yang dalam penilaian perkara tersebut dianggap bernilai nol rupiah.
Terlepas dari proses hukum yang berjalan, persoalan ini menarik untuk dibaca lebih luas sebagai masalah cara pandang terhadap kerja kreatif.
Persoalannya bukan pada apakah suatu komponen dibayar atau tidak, melainkan pada cara menilai yang secara langsung menempatkan sebagian proses kreatif sebagai nol rupiah tanpa dasar penilaian yang memadai. Dalam praktik produksi, ide, konsep, hingga editing merupakan satu kesatuan proses yang secara profesional memiliki nilai ekonomi, meskipun tidak selalu dipisahkan dalam bentuk komponen biaya.
Produksi video bukan sekadar aktivitas teknis merekam gambar. Ia adalah proses yang utuh. Ide melahirkan konsep. Konsep menentukan kebutuhan alat. Alat memengaruhi teknik pengambilan gambar. Dan seluruhnya berujung pada proses editing hingga dubbing. Setiap tahapan saling terkait dan tidak berdiri sendiri.
Karena itu, menilai sebagian proses tersebut sebagai nol rupiah sesungguhnya berarti memisahkan sesuatu yang secara alamiah tidak terpisahkan.
Dalam praktik industri kreatif, nilai sebuah karya tidak semata-mata terletak pada hasil akhir yang terlihat, tetapi juga pada proses intelektual dan teknis yang melahirkannya. Ide dan konsep bukanlah pelengkap, melainkan fondasi. Tanpa keduanya, proses produksi kehilangan arah dan makna.
Di sinilah letak persoalan mendasarnya. Ketika ide, konsep, dan proses kreatif lainnya dinilai tidak bernilai, maka yang dipersoalkan bukan sekadar angka, melainkan cara memahami kerja kreatif itu sendiri. Penilaian semacam ini berisiko menyederhanakan realitas produksi yang pada dasarnya kompleks dan terintegrasi.






