Maka itu ratu Bagus pun wafat di Bangka-Kota yang sekarang ada dia punya kubur yang disebut orang keramat ratu Bagus sampai waktu ini”.
Selanjutnya pada masa penaklukan Palembang oleh Inggris, Raffles pada awal bulan April 1812 mengirimkan 7 kapal perang dan 1 kapal logistik mengangkut 8 kompi senapan, 1 kompi pasukan berkuda dari Madras, 1 detasemen artileri dan satuan logistik serta diperkuat dengan pasukan yang ditempatkan di Bangka dibawah kapten Meares. Induk armada ini berangkat dari Batavia menempuh 5 hari perjalanan yang karena cuaca buruk terpaksa berlabuh di pulau Nangka selama 1 minggu. Sebagai komandan perang ditunjuk Kolonel Gellespie (Sujitno,2015:83).
Pada sisi sebelah Barat pulau terdapat beberapa makam dan salah satu makam adalah makam Syech Jafar Siddik yang merupakan tokoh berpengaruh dalam penyebaran Islam di pulau Bangka dan pulau Nangka sekitar pertengahan abad 20. Beliau juga merupakan salah seorang murid dari Syech Abdurrahman Siddiq, seorang penyebar Islam di pulau Bangka dan beberapa wilayah lainya yang berasal dari Banjarmasin.
Pulau Nangka merupakan pulau terbesar dari gugusan pulau di sekitarnya, dan saat ini merupakan pulau yang berpenghuni. Toponimi pulau dengan kata Nangka diberikan oleh nenek moyang kita karena di pulau ini banyak terdapat tumbuhan Nangka Kecil atau dalam bahasa lokal disebut pohon atau batang Kelidang. Di samping itu terdapat aneka pohon buah buahan lainnya seperti Durian dan Kuini. Pulau Nangka memiliki keunikan karena mata pencaharian penduduknya di samping berkebun Cengkeh, Sahang dan Kelapa, mereka juga menjadi nelayan yang umumnya menggunakan bubu dari anyaman bambu untuk menangkap ikan. Bambu umumnya tumbuh di pulau Nangka disamping tumbuhan lainnya yang mirip seperti tumbuhan di pulau Bangka.
Ketrampilan membuat perahu dan kapal juga masih berlangsung di pulau Nangka.
Pulau selanjutnya adalah pulau Midden Nanka atau pulau Gadung. Pulau ini diberi Toponimi Gadung karena berdasarkan tutur lisan masyarakat, dulunya terdapat tumbuhan Gadung. Pulau ini diapit oleh pulau Pelepas dan pulau Nangka, sehingga disebut dengan Midden Nanka.
Pulau Gadung tidak berpenghuni dan dikelilingi kawasan hutan Mangrove, serta pada bagian sisi Selatan pulau terdapat pantai yang sering dikunjungi wisatawan untuk menginap.
Pulau selanjutnya yang berada di posisi paling Utara adalah pulau Pelepas yang berjarak sekitar 30 menit dari pulau Bangka (dari Tanjung Tedung), terdapat satu menara suar yang berdasarkan prasasti pada menara ditulis: Onder De Regeering Van H.M Koningin Wilhelmina Gedurende Het Regentschap Van H.M. Koningin Emma Opgericht Voor Draailicht Eerste Grootte, 1893.
Bentuk dasar Menara bersegi 12 dan mengerucut ke atas, serta pada jarak tertentu pada beberapa sisi yang menghadap laut terdapat jendela kaca bersegi empat. Pintu Menara Suar dan posisi prasasti menara menghadap ke Arah Utara atau menghadap ke Bangunan Utama yang tampaknya difungsikan sebagai kantor dan dibangun bersamaan dengan dibangunnya menara (Tahun 1893). Untuk masuk ke dalam menara dari bangunan utama harus melewati teras selasar dan pagar pembatas langkah yang berbentuk melengkung dan kemudian menaiki 4 anak tangga.
6
Menara Suar dengan ketinggian 50 meter, berfungsi dengan jarak jangkauan lampu suar sekitar 16 mil dibangun untuk memandu kapal kapal yang melewati selat Bangka yang pada masa itu merupakan the favorite commercial coast.
Jalur selat Bangka sangat strategis dalam perdagangan dunia dan juga sangat berbahaya karena terdapat banyak gugusan karang seperti gugusan karang Tembaga, karang Hajji dan karang Bram. Bangunan menara suar secara keseluruhan dikelilingi oleh bangunan yang ruangannya berfungsi untuk gudang, penyimpanan mesin serta tempat menyimpan semua kebutuhan operasional menara suar.
Bangunan utama yang paling besar mengahadap ke menara suar atau ke arah Selatan, dengan luas sekitar 15×10 meter persegi, terdiri dari dua teras dan dua selasar dan terdiri dari 3 ruangan. Dua ruangan berada disisi Timur ke arah pulau Bangka dan satu ruangan terletak di sisi Barat dan pada bagian belakangnya terhubung ke teras dan selasar yang menghadap ke arah barat selat Bangka dan daratan Sumatera.
Selanjutnya pada sisi belakang bangunan dan sisi Barat Bangunan terdapat beberapa bak penampung air. Pada sisi Utara sekitar 177 meter dari bangunan terdapat satu makam orang Eropa dengan jirat bertuliskan: Hier Rust, Mevr: A.M. Goldman, Overl: 15 April 1894 atau satu tahun lebih muda dari prasasti pada menara suar dan kemudian sekitar 50 meter di sisi Timurnya terdapat sedikitnya 3 makam muslim dengan satu makam yang nisannya menggunakan granit, sedangkan yang lain nisannya sudah hilang dan rusak.
Pulau Pelepas atau pulau Lampu umumnya ditumbuhi oleh flora sama seperti di pulau Bangka, akan tetapi terdapat beberapa tanaman yang tampaknya sengaja ditanam oleh penjaga menara suar seperti pohon Asam Jawa, pohon Kelapa, bambu kuning dan bambu biasa serta tanaman Kuini.
Untuk memasuki areal menara suar tersedia dua jalan dari pesisir Timur Pulau, sedangkan pada sisi Barat, Utara dan Selatan merupakan lokasi yang curam dan langsung berhadapan dengan laut. Saat ini Menara Suar Pulau Pelepas atau West Nangka Island dikelola oleh Dirjen Perhubungan Laut, Kementerian Perhubungan, Distrik Navigasi Kelas I, Tanjung Priok dengan nama Menara Suar Nangka DSI 600.
Disarikan dari Buku Kampung di Bangka jilid III, Dato ‘Akhmad Elvian, DPMP, 2021












