Listrik Tenaga Nuklir? Membutuhkan Teknologi Khusus.
“Pengelolaan dampak Limbah Radioaktif dari Pembangkit Listrik Tenaga Thorium atau Nuklir (PLTT) di Pulau Gelasa Kepulauan Bangka menjadi salah satu kekhawatiran utama terkait Energi Nuklir. Proses pembangkitan Energi Nuklir dapat menghasilkan Limbah berbahaya yang harus dikelola dengan hati-hati,” ujarnya.
Energi Nuklir Menghasilkan Limbah Radioaktif.
Masalah lingkungan utama yang terkait dengan Tenaga Nuklir adalah terciptanya Limbah Radioaktif seperti Limbah Pabrik Uranium, Bahan Bakar Reaktor Bekas, dan Limbah Radioaktif lainnya. Bahan-bahan ini dapat tetap bersifat Radioaktif dan berbahaya bagi kesehatan manusia selama Ribuan Tahun,” tegas Ketum Baretta Indonesia ini.
Isotop Radioaktif yang dilepaskan dalam kecelakaan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir meliputi.
“Iodin-131 (I-131), Cesium-134 (Cs-134), dan Cs-137. Dalam jenis kecelakaan yang paling parah, seperti kecelakaan Chernobyl pada tahun 1986, Isotop Radioaktif berbahaya lainnya, seperti Strontium-90 (Sr-90) dan Plutonium-239, juga dapat dilepaskan,” paparnya.
Energi Nuklir memiliki beberapa dampak Negatif, diantaranya:
– Limbah Radioaktif
Limbah Radioaktif dari Energi Nuklir dapat tetap berbahaya selama Ribuan hingga Jutaan Tahun. Limbah ini harus disimpan dengan sangat hati-hati.
Selain itu, Energi Nuklir juga memiliki dampak Negatif lainnya, seperti:
– Gangguan Sosial dan Psikologis
– Kerusakan DNA
– Kerusakan alam Tanaman, Hewan Liar, dan Lapisan Ozon
– Peningkatan Sulfur Dioksida di Udara.
“Oleh karena itu sebagai Ketua Umum Baretta Indonesia, saya mempertanyakan tentang Dampak Limbah dari Energi Nuklir dari rencana Pembangunan PLTT di Pulau Gelasa oleh PT. ThorCon Power Indonesia yang sangat berdampak kepada Warga Masyarakat di Kepulauan Bangka Belitung,” tutup Arman, S.S., S.H. pihak dari pemerintah harus dengan tegas mengambil sikap yang tegas aturan – aturan dan pengawasan jangan hanya untuk kepentingan oknum-oknum tertentu hanya untuk kepentingan pribadi.












