“Thoriq ini anaknya fokus dan patuh. HP tidak jadi mainan seperti anak umumnya, penggunaannya dibatasi oleh orang tuanya. Istiqomah menjadi syarat keberhasilan Thoriq,” jelasnya.
Cerita itu membuat Imam Wahyudi terdiam dalam haru.
Program Cinta Anak Alquran yang digagasnya bukan lagi sekadar gagasan yang disampaikan dari satu forum ke forum lain. Pertemuan dengan Thoriq menghadirkan gambaran nyata tentang bagaimana kecintaan kepada Alquran dapat tumbuh melalui keteladanan keluarga.
“Menjadi kerinduan kita bila dalam rumah tangga ada anak kita yang hafal Alquran. Dirinya akan memberi syafaat kepada orangtuanya,” ungkap Imam.
Ia menegaskan, mencintai Alquran bukan hanya tentang mengagumi mereka yang telah hafal, tetapi juga berani memulai dari diri sendiri dan keluarga.
“Mari kita mencintai Alquran, dengan belajar dan mengajarinya. Sebaik-baik kita adalah yang mau belajar dan mengajarinya,” katanya.
Pertemuan itu kemudian diisi dengan sema’an dan sambung ayat Alquran. Imam Wahyudi, lulusan Gontor sekaligus anak seorang hafizul Quran, berinteraksi langsung dengan Thoriq dalam suasana yang teduh.
Lantunan ayat suci mengisi ruang pertemuan. Seolah menjadi pengingat bahwa di tengah hiruk-pikuk kehidupan, masih ada anak-anak yang sedang menjaga cahaya Alquran melalui hafalan dan ketekunan.
Thoriq mungkin baru berusia 11 tahun. Namun, kisahnya menyampaikan pesan yang melampaui usia: bahwa pendidikan terbaik tidak selalu dimulai dari ruang kelas, melainkan dari rumah yang menghadirkan keteladanan.
Imam Wahyudi pun menyampaikan harapan agar perjalanan Thoriq tidak berhenti pada hafalan, tetapi terus berlanjut menuju pendidikan dan masa depan yang lebih luas.
“Semoga Thoriq bisa terus bertumbuh dan sekolah ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Sukses ya, Nak. InsyaAllah saya akan support,” ucap Imam.

Sebuah pertemuan sederhana. Tetapi dari sana, lahir pesan besar: anak-anak yang mencintai Alquran bukan hanya sedang menghafal ayat, mereka sedang menjaga harapan bagi keluarganya dan masa depannya.












