Sebab, menjadi penambang adalah pekerjaan yang paling memungkinkan baginya saat ini.
“Profesi penambang ini satu-satunya yang bisa saya lakukan. Kalau di pertambangan lebih simpel. Pergi pagi, sore sudah dapat duit, meskipun tidak seberapa,” tuturnya.
Kalimat itu sederhana, tetapi menyimpan beban hidup yang tidak sederhana.
Khairul tahu pekerjaan tambang memiliki risiko dan ketidakpastian. Ia juga tahu hasilnya tidak selalu sepadan dengan tenaga yang dikeluarkan.
Namun ketika pilihan pekerjaan terbatas, tambang tetap menjadi tempat ia menggantungkan harapan.
Karena itu, ia berharap hasil tambang rakyat memiliki jalur penjualan yang jelas.
PT TIMAH menjadi salah satu perusahaan yang menurutnya diharapkan dapat menjadi tempat penampungan hasil timah rakyat ketika mekanisme dan persyaratan memungkinkan.
“Harapannya cuma itu. Dari dulu kan harus PT TIMAH yang menampung. Kalau kondisi PT TIMAH ini sudah mapan seperti ini saya tetap pilih ke PT TIMAH karena ambil aman saja dan saya juga bekerja di IUP PT TIMAH,” katanya.
Khairul memahami bahwa penjualan langsung ke PT TIMAH memiliki persyaratan tertentu.
Penambang yang belum memenuhi kelengkapan administrasi harus melalui kolektor yang dapat menampung hasil timah sesuai mekanisme yang berlaku.
“Kalau penambang mau langsung menjual ke PT TIMAH, tentu ada persyaratan yang harus dipenuhi, seperti kelengkapan surat. Sementara kami ini penambang kecil, jadi memang belum tentu memiliki kelengkapan seperti itu,” jelasnya.
Melalui kolektor pun, menurut Khairul, ada tantangan tersendiri karena masing-masing memiliki target dan ketentuan.
Di tengah kondisi tersebut, keresahan masyarakat sempat tumpah dalam aksi unjuk rasa di Belitung Timur.
Khairul tidak menutup mata terhadap persoalan yang dirasakan para penambang. Ia memahami bagaimana beratnya ketika hasil tambang sulit dijual.
Namun, ia berharap kemarahan tidak berubah menjadi tindakan anarkis.
“Kalau melihat saya sendiri pribadi, terlalu anarkis. Unjuk rasa itu boleh, tapi tidak harus melalui anarkis seperti itu,” katanya.
Baginya, penyampaian aspirasi tetap penting. Tetapi jalan keluar harus dicari melalui dialog dan perbaikan sistem.
Sebab di balik persoalan harga, antrean, tempat penjualan, dan berbagai aturan, ada manusia seperti Khairul yang setiap hari pergi ke tambang dengan satu tujuan sederhana: membawa pulang sesuatu untuk keluarganya.
Ia tidak sedang mengejar kekayaan.
Ia hanya sedang berusaha bertahan.
Dan selama tambang masih menjadi satu-satunya jalan yang tersedia, harapannya pun sederhana: biarkan penambang bekerja dengan tertib, biarkan hasilnya terserap melalui mekanisme yang jelas, dan jangan biarkan keringat mereka berhenti menjadi tumpukan timah yang tak tahu akan dibawa ke mana.













