Deskripsi Gambar

Belitung TimurBeritaPertambangan

Pergi Pagi, Pulang Bawa Harapan: Kisah Khairul, Penambang Timah yang Bertahan Demi Dapur Keluarga

×

Pergi Pagi, Pulang Bawa Harapan: Kisah Khairul, Penambang Timah yang Bertahan Demi Dapur Keluarga

Sebarkan artikel ini

Pergi Pagi, Pulang Bawa Harapan: Kisah Khairul, Penambang Timah yang Bertahan Demi Dapur Keluarga (E: Yosua.Asw)

BELITUNG TIMUR, LIPUTANSATU .COM, — Setiap pagi, Khairul Anam berangkat menuju lokasi tambang dengan harapan yang sederhana: hari itu ada timah yang bisa dibawa pulang.

Tidak ada jaminan berapa kilogram yang akan diperoleh. Tidak ada kepastian berapa rupiah yang akan masuk ke kantong. Bahkan untuk mendapatkan tiga atau empat kilogram timah dalam sehari pun kini bukan pekerjaan mudah.

Namun Khairul tetap berangkat.

Sejak 2019, warga Desa Selinsing, Kecamatan Gantung, Kabupaten Belitung Timur, itu menggantungkan hidup dari penambangan timah rakyat.

Bagi Khairul, tambang bukan sekadar pekerjaan. Di sanalah ia mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

“Penghasilan tidak tentu. Lokasi sekarang sudah amburadul, jadi agak susah kalau mencari tiga kilo, empat kilo itu sudah agak susah,” ujarnya beberapa waktu lalu.

Di balik aktivitas menambang yang terlihat sederhana, ada ongkos yang harus dikeluarkan. Bahan bakar, kebutuhan operasional, dan pengeluaran harian harus dipotong dari hasil yang didapat.

Jika sedang mendapatkan hasil, uang bersih yang dibawa pulang Khairul berkisar Rp200 ribu hingga Rp250 ribu sehari.

Bukan jumlah yang besar.

Tetapi bagi keluarga penambang, angka itu bisa berarti beras untuk beberapa hari, kebutuhan rumah tangga, biaya anak, dan berbagai keperluan yang tidak bisa ditunda.

Persoalannya, tambang tidak selalu memberi hasil.

Begitu pula harga timah.

Khairul pernah menghadapi harga di kisaran Rp130 ribu hingga Rp140 ribu per kilogram. Dalam kondisi seperti itu, ia mengaku kesulitan, terlebih jika tempat penjualan juga tidak berjalan sebagaimana mestinya.

“Kadang harga timah seperti kemarin tidak stabil. Kadang ada yang Rp130 ribu, Rp140 ribu, itu juga susah. Mau jual ke mana? Kalau sana-sini sudah tutup,” katanya.

Ketika harga membaik, persoalan lain muncul.

Antrean.

Hasil timah yang hendak dijual menumpuk karena tempat penjualan tidak selalu mampu melayani dalam waktu cepat.

Padahal, bagi penambang, hasil tambang adalah hasil kerja yang sudah mereka perjuangkan sejak pagi.

“Kalau harga kita sudah bagus, sudah puas sebagai masyarakat. Harga seperti ini ekonomi juga tetap terbantu, sangat terbantu. Karena operasional dengan penghasilan agak sesuai, tapi harus antre seperti ini,” ujar Khairul.

Ia sebenarnya tidak banyak menuntut.

Selama harga cukup baik dan hasil tambang bisa dijual, ia merasa masih bisa bertahan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *