Lebih jauh, situasi ini mengajarkan saya bahwa sebagai mahasiswa kita tidak boleh pasif. Meski baru semester 1, saya merasa penting untuk terus memantau dan menuntut transparansi dalam setiap tahap pemilwa mulai dari penyusunan calon, kampanye, hingga perhitungan suara. Jika penyelenggara pemilu tidak independen, maka proses itu bisa berubah menjadi alat politik kampus yang menyimpang dari prinsip demokrasi. Karena itulah, mahasiswa terutama yang baru seperti saya harus aktif mencari informasi, menuntut akuntabilitas, dan bersuara jika ada ketidakadilan.
Sebagai mahasiswa baru yang semula hanya berharap belajar dan berkembang, pengalaman membaca kasus ini memberi pelajaran keras: demokrasi kampus tidak bisa dianggap otomatis bersih dan adil. Dibutuhkan partisipasi aktif kita sebagai pemilih bukan hanya datang ke kotak suara, tetapi juga mengawal prosesnya dengan kritis. Kalau kita diam saja ketika ada kecurangan, artinya kita ikut membiarkan sistem rusak. Tak peduli semester berapa kita, setiap suara mahasiswa punya nilai dan harus dihargai.
Semoga ke depan Pemilwa di Universitas Bangka Belitung bisa benar-benar menjadi sarana demokrasi kampus yang bersih, adil, dan transparan. Dan sebagai mahasiswa baru, saya berharap saya dan seluruh mahasiswa bisa ikut menjaga nilai tersebut, sehingga suara kami tidak sekadar formalitas, tetapi betul-betul suara yang diperhitungkan







