Oleh: Glen Candra, Mahasiswa Sastra dan Bahasa, Sastra Inggris Angkatan 2025 UBB
OPINI, LIPUTANSATU.COM,— Bingung, ambigu, dan takut merupakan impresi pertama saya pada saat memasuki dunia perkuliahan. Nama saya Glen Candra, tapi biasa dipanggil Glen. Saya merupakan mahasiswa semester 1 yang baru saja memasuki dunia perkuliahan. Pada saat itu, saya mengira bahwa proses Pemilwa 2025 UBB hanyalah ritual kampus semata, sesuatu yang seharusnya bersih, jujur, adil. Idealnya mencerminkan semangat demokrasi kampus. Namun dari dua artikel yang saya baca mengenai dugaan manuver politik oleh dekan fakultas, penyelenggara pemilwa, dan pengawas pemilu mahasiswa membuat saya ragu: apakah Pemilwa benar-benar mencerminkan suara mahasiswa, atau malah dimanipulasi demi kepentingan tertentu.
Perasaan saya sebagai mahasiswa baru berubah cepat ketika kabar tentang manuver politik muncul. Jika benar ada intervensi dari pihak akademik atau penyelenggara, maka kredibilitas suara mahasiswa diragukan sejak awal. Praktik seperti ini jika tidak dicegah bisa merusak integritas proses pemilwa, karena pemilihan seharusnya menjadi wadah aspirasi bebas tanpa tekanan atau pengaruh dari otoritas kampus. Saya khawatir suara saya dan teman-teman, yang memasuki kampus dengan harapan partisipasi dan representasi, malah tidak dihargai secara adil.






