BeritaEdukasi

Kuliah Prof. Brian Di Kampus Perjuangan ITS

×

Kuliah Prof. Brian Di Kampus Perjuangan ITS

Sebarkan artikel ini

Ini bukan soal melarang hiburan. Sama sekali bukan. Ini soal urgensi. Soal kegilaan untuk maju. Kata Prof. Brian, sebuah bangsa butuh kaum elite yang ambisius. Yang gila kerja.

Lalu siapa kaum elite itu?

Prof. Brian menunjuk ke jantungnya: dunia kampus. Para mahasiswa, dosen, guru besar. Para intelektual. Di semua negara maju, kata beliau, kelompok inilah motornya. Jumlahnya besar. Pengaruhnya dahsyat.

Maka, ukuran ideal seorang dosen pun harus bergeser, menurut Prof. Brian. Bukan lagi soal berapa banyak namanya dikutip di jurnal Scopus. Bukan berapa banyak penelitiannya yang tersimpan rapi di perpustakaan.

“Dosen yang hebat,” kata Prof. Brian, “adalah dosen yang menerima royalti dari hasil penelitiannya.”

Artinya, riset harus ‘membumi’. Harus bisa dijual. Dipakai industri. Menjadi solusi nyata. Kalau risetnya laku, dosen dan kampusnya dapat pemasukan. Negara dapat inovasi. Industri melesat maju. Simbiosis mutualisme.

Tentu, dosen tidak bisa jualan sendirian. Di sinilah peran para Wakil Rektor Bidang Kerja Sama itu. Para peserta ‘kuliah’ Prof. Brian hari itu.
Menurut menteri, jabatan mereka ini adalah ujung tombak. Panglima di medan perang industri. Maka, kantor mereka seharusnya bukan di dalam kampus.

“Kantor Anda itu di luar!” tegas Prof. Brian. “Di kawasan industri, di lantai pabrik, di ruang rapat Kadin, di lobi kementerian.”
Tugas mereka bukan lagi menunggu proposal datang. Tapi menjemputnya. Bahkan menciptakannya. Mereka adalah Duta Besar yang membawa ‘produk’ riset terbaik kampusnya untuk ditawarkan ke dunia nyata.

‘Kuliah’ dari Prof. Brian di ITS kemarin itu benar-benar secangkir kopi yang sangat pahit. Tapi sangat perlu. Untuk membangunkan kita semua.
Kini tinggal kita. Mau terus berjalan santai di jalur ‘jam 5 sore’ yang nyaman tapi buntu? Ataukah kita berani mengambil jalan terjal ‘jam 9 malam’ yang melelahkan, tapi di ujungnya ada tujuan besar yang menanti?

AMH

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *