Namanya Prof. Brian. Jabatannya: Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. Disingkat: Diktisaintek.
Kemarin, beliau memberi ‘kuliah’. Di depan orang-orang penting dari seluruh Indonesia: para Wakil Rektor Bidang Kerja Sama. Tempatnya di kampus perjuangan itu, ITS Surabaya. Acaranya punya nama keren: FORWAREK.
Saya sebut ‘kuliah’ karena isinya memang begitu. Lugas. Langsung ke jantung persoalan. Seperti secangkir kopi pahit di pagi hari: membuat mata yang mengantuk jadi terbuka lebar.
Prof. Brian tidak bertele-tele. Beliau langsung menyodorkan sebuah mimpi besar. Mimpi kita semua. Yaitu, target Indonesia menjadi negara maju. Angkanya jelas: PDB per kapita harus tembus tiga kali lipat dari sekarang.
Syaratnya? Pertumbuhan ekonomi harus lari di angka 8% per tahun. Berat? Sangat. Tidak bisa dicapai dengan kerja biasa-biasa saja.
Lalu, apa resep semua negara maju? Prof. Brian melempar kunci jawabannya: industri hebat. Dan di belakang setiap industri hebat, selalu ada kampus hebat yang menopangnya. Inilah formulasinya. Formulasi yang, jujur saja, masih menjadi PR besar kita.
Di tengah perenungan itu, Prof. Brian melontarkan antitesisnya. Sebuah pertanyaan retoris yang menampar. “Bagaimana mau mengejar target itu,” kata beliau kira-kira, “kalau mentalitas kita masih mentalitas jam lima sore?”
Sebuah kontras yang amat tajam. Antara ambisi setinggi langit dan kebiasaan senyaman kasur.
Lalu sang menteri memberi contoh. Bukan Eropa. Bukan Amerika. Tapi Korea Selatan. “Coba lihat Korea. Jam sembilan malam,” kata Prof. Brian, “mahasiswa di sana itu masih di laboratorium. Masih presentasi progres ke dosennya.”
Prof. Brian seolah ingin kita berkaca. Jam sembilan malam, anak-anak muda kita, bahkan kita sendiri, sedang apa? Mungkin sudah asyik ‘mabar’. Atau sudah nyaman scrolling HP atau di depan TV.






