Ruang hidup masyarakat Bangka Belitung kini terhimpit korporasi besar yang bergerak di bidang pertambangan timah juga perkebunan monokultur sawit. Setiap jengkal lahan perkebunan berganti menjadi lubang tambang pasir timah juga bentangan laut dan karang hancur melawan aktivitas pertambangan.
Sebaran tanaman lada yang sempat dipuncak kejayaannya beralih fungsi menjadi perkebunan sawit, watak kapitalisme korporasi perlahan menghegemoni masyarakat dengan memberikan CSR berupa bibit sawit yang merubah arah perkebunan lada menjadi sawit.
Setiap gram butir timah yang dikeruk tanpa belas kasih juga setiap biji sawit yang diekstrak hanya membuat semakin terjal jurang kemiskinan bagi kaum proletar dengan kaum borjuis.
Negara terbukti gagal dalam mengelola kekayaan bumi Bangka Belitung. Melekat dibenak masyarakat carut marut pengelolaan tambang timah yang berujung kerugian 300T juga tingginya harga bahan pokok minyak goreng menjadi bukti bahwa seluruh sumber daya alam hanya menjadi lahan eksploitatif yang juga merubah dan menodai peradaban masyarakat adat Bangka Belitung.
Kembali kita renungkan seperti apa masa depan peradaban Bangka Belitung? Sudahkah kemenangan kaum marhaen tercapai?












