Pelatih sepak takraw Bangka, Sigit, membenarkan bahwa Riska merupakan salah satu atlet yang mengikuti proses seleksi.
“Riska memang ikut seleksi. Ada 22 atlet yang diseleksi. Tapi untuk siapa yang nantinya masuk tim Porprov, kita masih menunggu hasil seleksi awal September,” ujarnya.
Sigit menambahkan, di luar program resmi pembinaan Porprov, para atlet tetap menjalani latihan melalui pengurus cabang olahraga atau klub masing-masing.
Dengan kata lain, perjalanan menuju Porprov bukan hanya soal menunggu keputusan siapa yang lolos. Ada latihan panjang yang harus tetap dijalani.
Syamsul pun meminta seluruh atlet tidak larut dalam persoalan seleksi.
“Saya berharap atlet fokus berlatih. Ikuti program pelatih, dengarkan arahan, dan tingkatkan kemampuan. Soal siapa yang nanti terpilih, biarkan proses seleksi yang menentukan,” pesannya.
Menurutnya, kesempatan untuk tampil maksimal pada hari pertandingan harus dipersiapkan sejak sekarang.
“Kalau hari H tiba, kita ingin atlet Bangka benar-benar siap dan bisa memberikan prestasi terbaik,” katanya.
Prestasi Lama Menjadi Tantangan Baru
Sepak takraw sendiri memiliki catatan prestasi yang cukup menjanjikan.
Syamsul menyebut berdasarkan informasi dari pelatih dan pengurus PSTI Bangka, pada Kejurprov tahun lalu, Bangka mampu membawa pulang satu emas, dua perak, dan satu perunggu.
Catatan itu menjadi bukti bahwa Bangka memiliki atlet potensial. Tetapi prestasi tersebut juga menjadi pekerjaan rumah: bagaimana memastikan atlet tidak hanya berbakat, tetapi juga mendapatkan pembinaan yang konsisten.
Respons KONI Bangka tersebut diapresiasi Imam Wahyudi.
Imam mengaku senang melihat adanya respons cepat terhadap persoalan yang disampaikan melalui pemberitaan.
“Saya senang dan bangga KONI Bangka langsung merespons. Artinya, persoalan atlet mendapat perhatian,” ujarnya.
Ia berharap kepemimpinan Syamsul Maulana mampu membawa KONI Bangka menjadi organisasi yang semakin kuat dalam membina atlet.
“Semoga KONI Bangka ke depan lebih baik lagi dan semakin banyak memberikan manfaat bagi atlet maupun daerah,” katanya.
Pada akhirnya, medali memang hanya berbentuk emas, perak, atau perunggu. Tetapi sebelum medali itu menggantung di leher seorang atlet, ada perjuangan panjang yang tidak terlihat.
Karena itu, ketika atlet membawa nama Bangka ke arena pertandingan, jangan biarkan mereka merasa bahwa perjuangan itu hanya milik mereka.













