“Upaya dekarbonisasi menjadi bagian penting dari transformasi perusahaan untuk menciptakan operasional pertambangan yang lebih hijau, efisien, dan berkelanjutan,” katanya.
Menurut Anggi, perusahaan juga terus mengembangkan berbagai program berbasis solusi alam sebagai langkah penyeimbang antara aktivitas bisnis dan keberlanjutan lingkungan.
Salah satunya melalui program carbon offset berupa penanaman pohon dan reboisasi hutan yang diharapkan mampu meningkatkan penyerapan karbon secara alami.
Tak hanya fokus pada pengurangan emisi saat ini, PT TIMAH juga menyiapkan strategi jangka panjang lewat pengembangan teknologi ramah lingkungan dan optimalisasi efisiensi energi.
Berbagai langkah strategis telah dipetakan dalam roadmap dekarbonisasi perusahaan, mulai dari implementasi solar photovoltaic berkapasitas 421 kWp di Head Office, pengembangan biodiesel hingga B100, penggantian energi fosil ke energi terbarukan, hingga elektrifikasi kendaraan dan alat operasional tambang.
Perusahaan juga menerapkan pendekatan lain seperti penangkapan dan penyimpanan karbon, pengurangan emisi fugitif, pemanfaatan sertifikat energi terbarukan, hingga penggunaan carbon offset sebagai bagian dari strategi pengurangan emisi jangka panjang.
Melalui langkah-langkah tersebut, PT TIMAH tidak hanya memperkuat daya saing perusahaan di masa depan, tetapi juga menunjukkan bahwa industri pertambangan dapat tumbuh seiring dengan upaya menjaga bumi dan keberlanjutan lingkungan.












