“Beliau memang suka membuat suasana hidup. Selalu ada saja dagelan yang bikin kami tertawa. Itu yang membuat kami merasa dekat,” katanya.
Di balik kepribadian santainya, Egi menilai Aswandi sebagai sosok yang memiliki kedalaman berpikir dan menjadi rujukan dalam banyak hal.
“Pak Aswandi itu bukan hanya dosen, tapi juga teman diskusi. Saya banyak belajar dari cara beliau melihat sesuatu. Orangnya terbuka dan mudah bergaul dengan siapa saja,” jelasnya.
Di penghujung cerita, Egi pun menyelipkan doa dan harapan.
“Semoga Pak Aswandi selalu diberikan kemudahan dan kelancaran dalam segala hal,” tutupnya.
Lebaran kali ini meninggalkan kesan yang berbeda bagi Egi. Bukan hanya soal silaturahmi, tetapi juga tentang momen spontan yang menghadirkan tawa—dan cerita yang akan terus dikenang.












