Menurutnya, kebijakan ekstraktif yang terus berlangsung memperparah kondisi tersebut. “Ini bukan hanya soal lingkungan, tapi soal keadilan hidup,” tegasnya.
Dari kalangan mahasiswa, Ricky Kuswanda dari SEMPRO menyuarakan kritik terhadap kenaikan UKT yang dinilai menambah beban generasi muda.
“Pendidikan hari ini terlalu mahal. Kami menolak logika bahwa pendidikan adalah komoditas. Yang kami perjuangkan adalah sistem pendidikan gratis, adil, dan demokratis,” katanya.
Ia juga menyoroti masa depan anak muda yang semakin tidak pasti. “Kami didorong masuk ke dunia kerja yang fleksibel, tapi tanpa jaminan. Ini situasi yang harus dilawan bersama,” tambahnya.
Tak hanya diskusi, Panggung Rakyat juga menghadirkan seni sebagai medium kritik. Puisi-puisi perlawanan, monolog penuh emosi, hingga teater simbolik menjadi cara lain untuk menyampaikan kegelisahan.
Hingga malam, semangat tak surut. Justru semakin menguat—menjadi tanda bahwa gerakan ini bukan sekadar acara, melainkan awal dari konsolidasi panjang.
Koalisi berharap, dari panggung sederhana ini, lahir gerakan yang lebih besar untuk mengawal isu-isu krusial: kekerasan seksual di kampus, ketimpangan agraria, serta hak atas pendidikan yang setara.
Di Hari Pendidikan Nasional, Pangkalpinang menyuguhkan potret berbeda—bukan hanya tentang pendidikan, tetapi tentang keberanian untuk menggugat dan memperjuangkan masa depan.












