Namun, bagi Didit, pencapaian ini bukan akhir, melainkan awal dari tanggung jawab yang lebih besar. Ia menegaskan pentingnya dukungan berkelanjutan dari pemerintah daerah agar UBB terus tumbuh dan berkembang.
“Kampus adalah pusat lahirnya masa depan daerah. Kita tidak boleh setengah hati dalam mendukungnya,” tegasnya.
Ia pun mendorong adanya kolaborasi konkret antara eksekutif dan legislatif, khususnya dalam penganggaran melalui APBD. Menurutnya, ruang untuk membantu selalu ada, selama ada kemauan bersama.
“Bukan soal bisa atau tidak, tapi mau atau tidak. Pemerintah harus hadir,” katanya lugas.
Didit juga mengingatkan bahwa perhatian terhadap kampus tidak boleh pilih kasih. Semua perguruan tinggi di Bangka Belitung, kata dia, memiliki peran strategis dalam pembangunan sumber daya manusia.
Kini, UBB telah melangkah lebih jauh. Bukan lagi sekadar kebanggaan lokal, tetapi telah menjadi bagian dari aset nasional yang membawa nama daerah ke level yang lebih tinggi.
“UBB ini sudah menjadi aset nasional. Tanggung jawab kita bersama untuk menjaganya,” pungkasnya.












