“Saya ingin pihak Pertamina melihat sendiri kondisi yang dialami masyarakat, sehingga penanganannya bisa dilakukan lebih cepat,” katanya.
Ia juga mengisahkan pengalaman yang menggambarkan betapa seriusnya dampak kelangkaan BBM. Dua sepeda motor mogok di depan rumahnya karena kehabisan bahan bakar, bahkan salah seorang warga terpaksa berjalan kaki mengantar anaknya ke sekolah setelah gagal memperoleh BBM.
Bagi Didit, peristiwa tersebut menjadi bukti bahwa krisis BBM telah menyentuh seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali.
Untuk itu, DPRD Babel meminta Pertamina tidak hanya mempercepat pemulihan pasokan, tetapi juga melakukan evaluasi sistem pelayanan di SPBU, termasuk mengatur jalur antrean agar kendaraan umum tidak bercampur dengan pembelian menggunakan jeriken sehingga distribusi menjadi lebih tertib dan efektif.
Tak kalah penting, DPRD juga meminta penyaluran BBM subsidi bagi nelayan dibenahi agar benar-benar diterima oleh mereka yang berhak. Dengan distribusi yang lebih tepat sasaran, diharapkan sektor perikanan tetap mampu menjadi penopang ekonomi masyarakat pesisir Bangka Belitung.
“Yang paling penting sekarang adalah memastikan pasokan kembali normal sehingga masyarakat bisa beraktivitas tanpa dihantui kekhawatiran sulit mendapatkan BBM,” pungkas Didit.












