Tanda diterimanya amal bukan pada meriahnya Idul Fitri, tetapi pada perubahan setelahnya. Jika masjid masih kita datangi, Al-Qur’an masih kita baca, dan sedekah masih kita jaga—itulah kemenangan. Jika tidak, maka yang tersisa hanyalah lapar dan lelah.
Idul Fitri mengajarkan maaf, tapi jangan lupa: tidak semua dosa selesai dengan berjabat tangan. Ada yang hanya bisa dihapus dengan taubat yang sungguh-sungguh.
Jangan jadikan Ramadan sebagai satu-satunya waktu kita dekat dengan Allah. Jadikan ia titik awal perubahan.
Karena sejatinya, yang kita rayakan bukan akhir Ramadan—tetapi harapan untuk menjadi manusia yang lebih baik.
Jika tidak ada perubahan, maka Idul Fitri hanya menjadi perayaan. Bukan kemenangan.







