Luka bencana juga masuk ke ruang pendidikan.
Pesisir Nangadhero sempat terdampak tsunami dengan gelombang yang relatif kecil. Namun, dampaknya tetap terasa. Mayoritas siswa MA Nurusa’adah berasal dari Nangadhero dan Maropokot. Sejumlah perlengkapan sekolah mereka ikut hilang diterjang bencana.
“Khususnya siswa kami mayoritas berasal dari Nangadhero dan Maropokot yang terkena dampak tsunami. Walaupun tsunaminya kecil, namun menyebabkan beberapa peralatan belajar siswa hilang, seperti seragam, buku tulis dan buku pelajaran,” kata Ambo.
Bagi anak-anak, kehilangan seragam dan buku bukan sekadar kehilangan barang. Itu berarti kehilangan sebagian dari perlengkapan untuk kembali mengejar pelajaran dan merajut cita-cita setelah bencana.
Karena itu, pemulihan tidak cukup hanya dengan membangun kembali apa yang rusak. Anak-anak harus dipastikan kembali belajar, warga harus kembali merasa aman, dan kehidupan perlahan harus diberi kesempatan untuk tumbuh lagi.
Ambo berharap kepedulian PT TIMAH dapat terus mengalir, terutama untuk mendukung pemulihan pendidikan di wilayah yang terdampak.
“Kami mendoakan PT TIMAH sukses selalu dan mendapat banyak keberkahan dari Allah SWT. Untuk teman-teman yang menjadi bagian dari PT TIMAH, kami mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya. Semoga Allah selalu melindungi keluarga, melimpahkan rezeki dan memberikan banyak keberkahan,” tuturnya.
Di tengah tenda-tenda darurat dan kehidupan yang belum pulih, bantuan itu menjadi lebih dari sekadar sembako dan tikar. Ia adalah tanda bahwa ketika bencana merenggut rasa aman, masih ada tangan yang datang untuk membantu masyarakat berdiri kembali.













