Deskripsi Gambar

Belitung TimurBeritaPertambangan

Setelah Demo Reda, MUI Belitung Timur Bicara: Jaga Persaudaraan, Jangan Rusak Negeri Sendiri

×

Setelah Demo Reda, MUI Belitung Timur Bicara: Jaga Persaudaraan, Jangan Rusak Negeri Sendiri

Sebarkan artikel ini

Sementara kepada masyarakat, MUI menyerukan agar semangat persaudaraan tidak ikut menjadi korban.

“Kami mengajak kepada seluruh elemen masyarakat, kita pupuklah semangat persaudaraan, baik itu masyarakat, aparat penegak hukum, pengambil kebijakan termasuk PT TIMAH dan sebagainya. Kita intinya persaudaraan ini kita perkuat, kita junjung,” ujarnya.

MUI juga mengajak masyarakat memperbanyak doa dan mengubah momentum tersebut menjadi ruang untuk melakukan muhasabah.

Sebab persoalan Belitung Timur tidak hanya menyangkut apa yang terjadi hari ini. Ada masa depan yang harus dipikirkan.

Try Mario mengingatkan bahwa kekayaan alam Belitung Timur jauh lebih luas daripada sekadar timah. Pasir, kawasan Tebat Rasau dan kekayaan ekosistem di dalamnya merupakan aset yang harus dijaga.

“Belitung Timur ini luar biasa. Di sini bukan hanya timah, pasirnya juga bermanfaat. Kemudian Tebat Rasau, ikan-ikan purbanya itu luar biasa masih ada. Hal-hal seperti ini harus kita rawat bersama,” katanya.

Ia menegaskan, sumber daya alam memang dapat dimanfaatkan untuk kesejahteraan masyarakat. Namun pemanfaatannya harus tetap memperhitungkan keberlangsungan lingkungan.

“Kalau itu dimanfaatkan untuk kemaslahatan umat, kebaikan umat, kemakmuran umat itu silakan. Namun kita hidup di dunia ini bukan hanya manusia, tapi ada hewan, ada tumbuh-tumbuhan, ada ekosistem. Harmonisasi ini antara manusia dengan makhluk yang lain, antara manusia dengan manusia ini harus kita jaga,” tuturnya.

Artinya, pembangunan tidak boleh hanya menghitung berapa banyak yang diambil dari bumi. Tetapi juga harus menghitung apa yang tersisa untuk anak cucu.

Dewan Pertimbangan MUI Belitung Timur, H. Sayono, kembali menekankan pentingnya introspeksi dan komunikasi.

“Kita terus belajar dari segala kondisi yang pernah kita alami. Dengan pelajaran ini tentunya kita akan introspeksi, muhasabah. Kita lihat di mana kekurangan kita masing-masing, di situlah kita harus perbaiki,” ujarnya.

Menurut Sayono, Belitung Timur membutuhkan kedamaian agar masyarakat dapat kembali menjalankan aktivitasnya, termasuk menggerakkan roda ekonomi.

“Bangun komunikasi yang baik di antara kita semua. Dengan kebersamaan ini kita berkeyakinan mudah-mudahan negeri kita ini selalu aman damai. Karena bagaimanapun masyarakat Belitung ini masih butuh dengan pertambangan ini,” tutupnya.

Pada akhirnya, MUI tidak sedang meminta masyarakat untuk diam. Sebaliknya, masyarakat tetap memiliki hak untuk menyampaikan aspirasi.

Namun aspirasi membutuhkan ruang dialog, bukan amarah. Perbedaan membutuhkan komunikasi, bukan permusuhan. Dan kritik membutuhkan arah perbaikan, bukan kehancuran.

Belitung Timur boleh berbeda pandangan, tetapi jangan sampai kehilangan persaudaraan. Sebab negeri ini bukan milik satu pihak—ia adalah rumah bersama yang harus dijaga untuk hari ini dan generasi yang akan datang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *