Tak hanya berhenti pada batik, program ini juga mendorong tumbuhnya unit UMKM sekolah. Para siswa dilatih untuk mengelola usaha sederhana seperti pembuatan jus buah, lengkap dengan dukungan peralatan dari PT TIMAH.
Bagi Arif, program ini merupakan langkah nyata untuk menciptakan kemandirian berkelanjutan bagi para siswa.
“Kami ingin mereka tidak hanya punya keterampilan, tetapi juga bisa mandiri secara ekonomi setelah lulus,” katanya.
Namun, proses ini membutuhkan waktu dan ketekunan. Tidak semua siswa bisa langsung mahir, sehingga pembinaan harus dilakukan secara bertahap.
“Ketika mereka sudah mulai terampil, seringkali sudah waktunya lulus. Jadi kami harus terus memulai dari awal,” ujarnya.
Di balik tantangan tersebut, harapan tetap terjaga. Dukungan PT TIMAH dinilai menjadi bagian penting dalam perjalanan ini, tidak hanya dari sisi fasilitas, tetapi juga pendampingan.
“Semoga program ini terus berlanjut, sehingga siswa kami benar-benar siap mandiri di masa depan,” tutup Arif.












