Ketika beberapa armada dari berbagai instansi berada di satu lokasi, proses pemadaman dapat dilakukan bergantian. Sebagian armada fokus menjinakkan api, sementara armada lainnya menjaga suplai air.
Pemerintah juga menggandeng Perumda Air Minum untuk mendukung kebutuhan air, termasuk dengan membuka hidran di sejumlah titik yang dapat dimanfaatkan armada pemadam.
Budi menilai, seluruh kekuatan tersebut harus ditempatkan dalam satu barisan.
“Jika semua stakeholder, baik BUMN, vertikal maupun pemerintah, sudah bersatu untuk membantu sesama, insyaallah kita akan lebih kuat dalam menghadapi cuaca atau musim El Nino Godzilla ini,” katanya.
Ia pun menyampaikan apresiasi terhadap PT TIMAH yang dinilai konsisten membantu pemerintah dalam menghadapi karhutla.
“Terima kasih banyak buat PT TIMAH yang telah membantu kami pemerintah provinsi. Pak Gubernur juga memberikan apresiasi kepada rekan-rekan, terutama pemadam di PT TIMAH itu sendiri,” ujarnya.
Tetapi satu persoalan jauh lebih penting daripada memperbanyak armada pemadam: mencegah api sejak awal.
Budi meminta masyarakat tidak membakar lahan secara sengaja maupun melakukan aktivitas yang berpotensi menimbulkan titik api.
“Mohon kepada seluruh masyarakat, stop, berhenti untuk jahil ataupun sengaja. Jangan usil,” tegasnya.
Ia bahkan meminta masyarakat ikut menjadi mata bagi petugas.
Jika menemukan seseorang yang diduga sengaja memicu kebakaran, masyarakat diminta segera melaporkannya kepada pihak berwenang.
“Kalau ada yang melihat orang yang sengaja, tolong dibantu untuk penangkapan agar ada efek jera,” katanya.
Sebab, kebakaran bukan hanya soal pohon yang terbakar.
Di balik asap yang mengepul, ada kesehatan warga yang terancam. Ada lingkungan yang rusak. Ada aktivitas masyarakat yang terganggu. Dan ada biaya sosial serta ekonomi yang pada akhirnya harus ditanggung bersama.
Karena itu, Budi menegaskan sinergi penanganan karhutla harus menjadi gerakan berkelanjutan, bukan hanya reaksi ketika musim panas tiba.
“Selanjutnya kita jangan sampai di musim El Nino ini saja, tetapi ke depannya juga kita tetap bersinergi karena ini adalah nyawa masyarakat kita. Di sini ada efek sosial dan ekonomi juga,” ujarnya.
97 kali turun memadamkan api adalah catatan kerja. Tetapi harapan terbesar tentu bukan menambah angka itu. Harapan terbesar adalah semakin sedikit api yang harus dipadamkan—karena semakin banyak masyarakat yang memilih mencegahnya sejak awal.













