Ia menilai KISMIS Babel telah berada di jalur positif dalam mendorong pemberdayaan perempuan. Karena itu, peningkatan kapasitas anggota harus terus dilakukan melalui pelatihan, pengembangan wawasan dan berbagai aktivitas yang relevan dengan kebutuhan zaman.
Perempuan, kata Dessy, tidak boleh berhenti belajar hanya karena usia, status keluarga, atau kesibukan. Dunia berubah setiap hari, dan perempuan harus memiliki kemampuan untuk ikut membaca perubahan itu.
“Setiap upaya yang dilakukan perempuan harus memberikan dampak nyata serta manfaat yang positif bagi lingkungan dan masyarakat,” tegasnya.
Dessy juga berbicara tentang sisi lain yang sering tidak terlihat. Di balik perempuan yang tampak kuat, ada banyak tanggung jawab yang harus dipikul.
“Menjadi perempuan itu tidak mudah. Banyak tugas dan tuntutan yang harus dijalankan, baik di dalam rumah tangga maupun di luar rumah. Oleh karena itu, mari saling mendukung dan memanfaatkan keahlian yang kita miliki,” tuturnya.
Karena itu, ia mengajak KISMIS Babel tetap menjaga nilai organisasi, menjunjung etika, dan membangun solidaritas antaranggota.
“Mari kita terus mendorong semangat agar tetap bersinar tanpa harus memberikan cahaya kepada orang lain,” tutupnya.
Pesannya sederhana, tetapi dalam: perempuan tidak perlu meredupkan dirinya agar orang lain terlihat terang. Namun ketika ia bersinar, cahaya itu seharusnya tidak berhenti pada dirinya sendiri.
Sebab perempuan yang berdaya bukan hanya mampu mengubah hidupnya—ia mampu menjadi energi bagi keluarga, komunitas, dan masyarakat.













