Ia mengingatkan bahwa PDI Perjuangan lahir dari prinsip perlawanan, sebagaimana diajarkan oleh Ketua Umum Prof. Megawati Soekarnoputri.
“Siap maju?” tanyanya. “Siap!”
“Siap menang?”
“Siap!”
“Takut?”
“Tidak!” jawab peserta Musancab kompak dan bersemangat.
Lebih lanjut, ia juga menegaskan bahwa kedaulatan rakyat harus menjadi roh perjuangan kader, terutama di tingkat ranting sebagai garda terdepan pembela keadilan sosial.
“Hari ini rakyat tidak butuh retorika. Rakyat butuh kerja nyata,” katanya, sembari mencontohkan sosok kader perempuan tangguh, Ibu Me Hoa, sebagai teladan perjuangan di bidang BPJS.
Senada juga Pak Rudianto Tjen juga menegaskan bahwa partai politik tidak dibentuk untuk melayani kekuasaan semata, melainkan membuka kran pelayanan bagi rakyat. PDIP disebutnya sebagai contoh partai yang konsisten berada di pihak rakyat.
“Soal menang atau kalah bukan persoalan utama. Yang penting ikhtiar maksimal dan selalu berpihak kepada rakyat,” ujarnya.
Di akhir sambutan, Wakil Bendahara DPP PDIP itu memastikan DPD dan DPP PDI Perjuangan akan menjadi perekat sekaligus pelindung bagi seluruh kader di Bangka Belitung, khususnya Bangka Selatan.
“Susunlah kepengurusan baru dengan semangat yang sama. Kerjanya harus luar biasa, bukan biasa-biasa. Gaspol,” pesannya.

Ia juga mengingatkan tantangan berat ke depan, mulai dari persoalan ekonomi, lapangan kerja, kemiskinan, hingga akses pendidikan bagi warga tidak mampu.
“Rajin turun ke lapangan ya. Dengarkan rakyat. Di Basel ini kader kita berada di puncak kekuasaan— Ada Bupati, Wakil Bupati, Ketua DPRD—kita jaga agar tidak melenceng dan tetap membela hak-hak dasar rakyat,” tutupnya.












