OPINI

Modus Swasta Ngotot Bangun PLTN di Bangka Belitung: Kedok Pengen Dapat Thorium Babel untuk Energi Alutista Perang 

25
×

Modus Swasta Ngotot Bangun PLTN di Bangka Belitung: Kedok Pengen Dapat Thorium Babel untuk Energi Alutista Perang 

Sebarkan artikel ini

Oleh: Bangdoi Ahada

OPINI, LIPUTANSATU. COM– Isu rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) di Bangka Belitung, yang dinarasikan berkapasitas 250 megawatt (MW), menguatkan satu pertanyaan besar yang terus berputar di kepala publik.

Apa sebenarnya agenda utama di balik proyek ini? Sebab, di atas kertas, banyak hal yang tidak masuk akal.

1. Kapasitas Kecil yang Tidak Ekonomis: Sinyal Proyek “Uji Coba”?
PLTN dengan kapasitas 250 MW bukan hanya kecil—tetapi tidak lazim untuk proyek energi nuklir yang membutuhkan investasi raksasa, teknologi tinggi, dan mitigasi risiko berlapis.

Industri energi global tahu betul: jika sebuah PLTN tidak berada di kisaran ribuan megawatt, maka ia jarang dianggap ekonomis.

Di Bangka Belitung, kondisi listrik saat ini surplus 30%. Lalu, untuk apa menambah 250 MW lagi?
Jika untuk kebutuhan Jawa atau Sumatera, maka butuh jaringan transmisi bawah laut yang biayanya sangat besar dan pembangunannya memakan waktu panjang.

Bahkan jika proyek ini selesai, balik modalnya bisa mencapai 80–100 tahun, sesuatu yang bertentangan dengan logika bisnis maupun standar investasi energi.

Dari titik ini saja, publik pantas curiga. Mengapa kapasitas sekecil ini diperjuangkan begitu ngotot?
Salah satu kemungkinannya, PLTN ini bukan proyek energi, melainkan proyek kedok.

2. Dugaan Agenda Terselubung: Meloloskan Ekspor Thorium dan Mineral Tanah Jarang.

Bangka Belitung memiliki cadangan thorium, uranium, dan mineral tanah jarang (rare earth elements) yang termasuk paling strategis di Asia. Nilai ekonominya luar biasa, terutama untuk teknologi nuklir, chip, baterai militer, dan industri pertahanan.

Dugaan terbesar yang muncul dari masyarakat adalah skenario ini:

1. PLTN diumumkan di Bangka Belitung sebagai proyek jangka panjang 5–6 tahun.
2. Sementara proyek belum dimulai, pihak pengusung meminta izin untuk mengirimkan bahan baku thorium/uranium ke luar negeri, dengan alasan akan diolah menjadi bahan bakar PLTN.
3. Pengiriman dilakukan ke Amerika atau negara lain yang memang membutuhkan pasokan thorium.
4. Pada akhirnya, proyek PLTN mungkin tidak akan pernah selesai atau dihentikan dengan alasan teknis, namun mineral strategis sudah terlanjur berpindah tangan ke Amerika atau negara lain yang sekarang memang sudah mengincar SDA Babel ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *