“Alat yang kami miliki sebelumnya sudah rusak, padahal kami masih rutin latihan dan sering tampil dalam kegiatan sosial maupun keagamaan. Bantuan ini sangat membantu kami,” katanya.
Saat ini, grup rebana tersebut memiliki sekitar 20 anggota aktif yang berlatih dua kali dalam sepekan. Mereka terus berusaha menjaga tradisi rebana agar tetap hidup dan dikenal generasi muda.
Bagi masyarakat Desa Lalang, keberadaan grup rebana bukan hanya hiburan. Ia menjadi bagian dari identitas budaya dan ruang silaturahmi yang mempererat hubungan sosial antarwarga.
Karena itu, bantuan alat musik yang diberikan PT TIMAH terasa lebih dari sekadar dukungan fasilitas. Bantuan tersebut menjadi penyemangat agar seni tradisional tetap bertahan di tengah perubahan zaman yang semakin cepat.
“Kami sangat berterima kasih atas dukungan yang diberikan. Semoga perusahaan semakin maju dan terus memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujar Yulizana.
Melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL), PT TIMAH terus menunjukkan komitmennya dalam mendukung pelestarian budaya lokal serta memperkuat komunitas seni tradisional di wilayah operasional perusahaan.
Sebab di balik setiap tabuhan rebana, tersimpan cerita tentang budaya, kebersamaan, dan upaya menjaga jati diri masyarakat agar tidak hilang oleh waktu.












