Deskripsi Gambar

BangkaBeritaPolitik

Lebaran Maulid di Mendo Barat, Imam Wahyudi Turun Menjemput Suara Rakyat

×

Lebaran Maulid di Mendo Barat, Imam Wahyudi Turun Menjemput Suara Rakyat

Sebarkan artikel ini

Wardian, warga Kemuje, melihat konsistensi itu sebagai sesuatu yang patut diapresiasi.

“Tidak ada matinya Pak Dewan ini kalau urusan rakyat. Beliau sangat istiqomah menjalankan amanah rakyat. Beliau selalu hadir di rumah-rumah warga hanya untuk mendengar dan mengetahui keadaan mereka,” ungkapnya.

Ia menilai, masyarakat membutuhkan wakil rakyat yang tidak menjaga jarak dengan konstituennya.

“Kami senang ada dewan seperti Pak Ustadz Imam Wahyudi yang peduli dan rajin menyuarakan aspirasi masyarakatnya,” tambah Wardian.

Bagi warga, kehadiran Imam Wahyudi juga tidak selalu berarti pujian. Ada kalanya kritik ikut disampaikan. Bahkan, kritik itu menjadi bagian dari “oleh-oleh” yang dibawa pulang dari perjalanan Safari Maulid.

Namun justru di situlah letak pentingnya seorang wakil rakyat: mampu menerima suara yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan.

Imam Wahyudi pun dinilai tidak mengenal sekat ketika berbicara tentang amanah rakyat. Ketika kepentingan masyarakat menjadi persoalan, warna dan kepentingan politik tidak boleh menjadi alasan untuk menjauh.

Rakyat telah menitipkan amanah. Maka amanah itu harus dipikul atas nama rakyat.

Pesan masyarakat kepada Imam Wahyudi pun terdengar sederhana, tetapi dalam: teruslah istiqomah, tetap rendah hati dan jangan pernah menjauh dari rakyat.

Sebab Maulid sejatinya bukan hanya mengenang kelahiran Rasulullah Muhammad SAW. Lebih jauh, ia adalah momentum untuk kembali bertanya kepada diri sendiri: sudah sejauh mana nilai kepedulian, keteladanan, silaturahmi dan keberpihakan kepada sesama benar-benar hidup dalam tindakan?

Di Mendo Barat, pertanyaan itu menemukan jawabannya melalui langkah yang sederhana—datang, duduk, mendengar dan pulang membawa suara rakyat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *