Kepala Bidang Ekonomi Kreatif, , menambahkan bahwa pendekatan hexahelix menjadi kunci memperkuat ekosistem.
“Kolaborasi hexahelix ini penting agar ide dan inovasi tidak berhenti di ruang diskusi. Pemerintah akan memfasilitasi agar gagasan tersebut dapat diwujudkan,” jelasnya.
Ia juga menyoroti pentingnya peningkatan kualitas kemasan produk agar lebih kompetitif.
“Kemasan bukan sekadar bungkus, tetapi wajah produk. Kita ingin produk ekraf Pangkalpinang tampil lebih profesional dan memiliki daya saing luas,” ujarnya.
Selain penguatan produk, pengembangan zona kreatif yang terintegrasi dengan objek wisata juga tengah dipersiapkan. Kawasan wisata nantinya akan menghadirkan aktivitas ekonomi kreatif seperti kuliner, seni, musik, kriya, hingga fotografi dalam satu ruang terpadu.
Tak hanya itu, ide promosi melalui produksi film lokal bertajuk “Batin Tikal” turut mengemuka sebagai strategi memperkenalkan potensi daerah ke panggung nasional.
Dengan semangat kolaborasi dan inovasi, Pangkalpinang menatap ekonomi kreatif bukan sekadar sektor usaha, melainkan identitas kota yang mampu membuka lapangan kerja, meningkatkan kesejahteraan, dan memperkuat daya saing di tingkat nasional.












