Ella menilai, pengetahuan yang diperoleh siswa selama kunjungan dapat dikembangkan dalam proses pembelajaran di sekolah, terutama terkait teknologi budidaya bioflok yang memiliki keterkaitan dengan kompetensi keahlian para peserta.
Lebih dari itu, ia melihat pengelolaan kawasan Air Jangkang sebagai contoh nyata bahwa lahan bekas tambang dapat dikembangkan menjadi kawasan yang produktif sekaligus memiliki nilai edukasi.
“Kami melihat apa yang dilakukan PT TIMAH dan PT TAM sangat baik dalam mengelola lahan bekas tambang menjadi kawasan yang produktif dan memiliki potensi sebagai destinasi wisata edukasi,” katanya.
Bagi Al Hikmah Solawatul, siswi kelas XII jurusan Agribisnis Perikanan Air Payau dan Laut (APPL), pengalaman tersebut membuka pemahaman baru tentang pentingnya pengelolaan lingkungan dalam kegiatan budidaya.
“Perasaan saya sangat gembira karena bisa menambah wawasan dan ilmu baru. Menurut saya, pengelolaan air dan lingkungan di sini sangat bagus, mulai dari penstabilan pH hingga pertumbuhan biota yang seragam,” ungkapnya.
Ia mengaku tertarik dengan teknologi akuaponik dan hidroponik yang diperkenalkan dalam kunjungan tersebut. Kedua metode itu dinilainya relevan untuk dikembangkan sebagai bagian dari pembelajaran praktis di sekolah.
Kampoeng Reklamasi Air Jangkang pun menghadirkan pesan penting bagi generasi muda: bahwa masa depan sebuah lahan tidak selalu berakhir ketika aktivitas pertambangan usai.
Dengan pengelolaan, inovasi, dan pengetahuan yang tepat, kawasan pascatambang dapat kembali memberi manfaat—bukan hanya bagi lingkungan, tetapi juga bagi pendidikan dan kehidupan masyarakat.












