Suasana pelabuhan semakin hangat saat Hidayat Arsani hadir langsung menyambut para pemudik.
Dengan senyum dan sapaan khas, ia menyampaikan rasa syukur atas kelancaran program tersebut.
“Selamat datang. Nikmati momen lebaran bersama keluarga. Ini kebahagiaan kita semua,” ucapnya.
Menurut Danlanal Babel, Yulindo, kerja sama ini merupakan bentuk nyata kehadiran negara bagi masyarakat.
“Kami ingin memastikan masyarakat bisa pulang tanpa terbebani biaya. Semoga ini membantu,” katanya.
Sebanyak 1.349 pemudik difasilitasi dalam program ini—sebuah angka yang bukan sekadar statistik, tetapi kisah tentang ribuan rindu yang akhirnya terbayar.
Bagi para perantau, mudik bukan sekadar perjalanan geografis. Ia adalah perjalanan emosional—tentang pulang, tentang keluarga, tentang kenangan.
Dan di hari itu, di pelabuhan kecil di Belinyu, semua cerita itu bertemu dalam satu kata: pulang.












