OPINI

Jurnalis 404: Ketika Etika Hilang dan Pers Dijual Demi Cuan

×

Jurnalis 404: Ketika Etika Hilang dan Pers Dijual Demi Cuan

Sebarkan artikel ini

Apa itu 404 jika bukan suap yang dibungkus ancaman pemberitaan?
Lalu, Di Mana Sanksinya?

Pertanyaan paling menyakitkan justru muncul di sini:
Di mana organisasi pers?
Di mana Dewan Pers?
Di mana rasa tanggung jawab kolektif menjaga marwah profesi?

Seharusnya, oknum jurnalis penikmat 404 layak dikenai sanksi tegas, mulai dari:
• Teguran keras dan terbuka oleh organisasi pers.
• Pencabutan kartu keanggotaan organisasi.
• Rekomendasi pencabutan kompetensi wartawan.
• Jika mengandung unsur pemerasan atau gratifikasi, diproses secara hukum pidana, bukan lagi sekadar etik.

Pembiaran hanya akan melahirkan generasi wartawan baru yang menganggap 404 sebagai hal lumrah, bahkan normal. Ini jauh lebih berbahaya daripada satu-dua oknum nakal.

Menjaga Pers, Menjaga Harga Diri
Pers tidak akan hancur karena kritik. Pers justru hancur karena diam terhadap kebusukan di tubuhnya sendiri.

Jika organisasi pers buta dan tuli terhadap praktik 404, maka yang sedang dipertaruhkan bukan sekadar reputasi, tetapi masa depan jurnalisme itu sendiri.

Semoga tidak banyak wartawan yang tergelincir dan menjadi anggota abadi 404.
Karena pada akhirnya, bukan publik yang akan bertanya,
melainkan nurani sendiri:
Masihkah pantas menyebut diri wartawan, jika etika saja tak ditemukan?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *