OPINI

Jika Hutan dan Bukit Terus Diperkosa, Waspadalah..! Babel Sedang Menunggu Giliran Bencana

42
×

Jika Hutan dan Bukit Terus Diperkosa, Waspadalah..! Babel Sedang Menunggu Giliran Bencana

Sebarkan artikel ini

Oleh: Bangdoi Ahada
OPINI, LIPUTANSATU.COM, — Hujan di awal Desember 2025 ini turun seperti biasa, seperti pagi-pagi lain yang telah rutin di bulan desember membasahi negeri khatulistiwa.
Tetapi berbeda dengan di Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara, hujan yang sama berubah menjadi malapetaka.
Ribuan rumah luruh diterjang banjir, tanah longsor mengubur asa, dan ratusan ribu saudara setanah air meratap kehilangan sanak, harta, bahkan harapan.
Di layar televisi dan ponsel kita, wajah-wajah basah itu menatap.
Bukan sekadar basah oleh air, tetapi oleh duka yang mungkin akan kita rasakan suatu hari nanti.
Sebab dalam peta besar Indonesia, tak ada satu pun daerah yang kebal dari bencana.
Mungkin bukan hari ini, mungkin bukan besok—tetapi yang pasti giliran itu menanti, ketika kita sudah tak bersahabat lagi dengan alam.
Kita diajarkan bahwa alam bekerja sesuai ketetapan Ilahi.
Tetapi kita juga tahu bahwa sebagian bencana bukan semata-mata murka alam, melainkan jeritan bumi yang terlalu lama diperas dan diperkosa hawa nafsu segelintir manusia durjana.
Di banyak daerah—termasuk Aceh, Sumbar, dan Sumut—perut gunung telah dikorek, kaki bukit digerogoti, dan rimba tua yang seharusnya menjadi pagar air ditebang atas nama keuntungan dan devisi.
Pohon-pohon yang selama ratusan tahun menjaga tanah dari melorot ke sungai kini tinggal tunggul. Ketika hujan turun deras, tanah yang kehilangan pegangan pasrah hanyut, membawa bersama ia jutaan meter kubik lumpur dan gelondongan kayu yang ditebang tanpa nurani.
Di hilir, masyarakat kecil—yang tidak pernah memegang bulldozer, yang tidak pernah menandatangani izin tebang, yang tidak mengenal meja transaksi tambang—menjadi korban, merana dukas nestapa.
Para Tuan Cukong Itu Tidak Basah Oleh Banjir
Sementara air bah mengejar kampung dan desa, ada banyak tanya bergema.
Di mana para cukong itu? Di mana bos kebun sawit dan pemodal tambang yang merobek hutan di hulu?Jawabannya mudah ditebak, meski pahit. Kini mereka duduk nyaman, mungkin sambil mengirup kopi hangat, sembari menyaksikan berita yang menyiarkan jeritan rakyat.
Tidak ada hujan yang membasahi baju mereka. Tidak ada lumpur yang menempel di kaki. Tidak ada anak yang mereka gendong sambil menangis ketakutan.
Mereka aman, karena mereka punya uang, jaringan, dan jalur pelarian.
Bangka Belitung: Belum, Bukan Tidak
Lalu bagaimana dengan Bangka Belitung?
Apakah kita aman? Jujur saja: tidak. Mungkin hanya belum saja.
Babel mungkin sedang antre menunggu bencana itu datang.
Tanda-tandanya sudah lengkap. Dari Nadi, Lubuk, hingga Sarang Ikan dan hampir seluruh kabupaten se Bangka Belitung ini.
Lihatlah bukit digunduli, hutan dirobek, DAS dicabik, sungai tak lagi mengalir sebagaimana mestinya. Lubang-lubang tambang ilegal menganga seperti luka yang tidak dirawat.
Tanah kehilangan daya cengkeram, sungai kehilangan daya tampung, dan pemerintah kehilangan daya paksa untuk menertibkan tambang ilegal dan kebun-kebun sawit yang juga illegal.
Kita mungkin sedang hidup dalam jeda—bukan perlindungan. Dalam penundaan—bukan keselamatan.
Waktunya Pemda dan APH Bekerja, Bukan Menunggu
Saudara-saudara di Aceh, Sumut, dan Sumbar tidak pernah membayangkan pagi itu akan menjadi petaka.
Begitu pula Bangka Belitung, jika pemerintah daerah masih menganggap waktu adalah milik mereka sepenuhnya.
Gubernur dan para bupati harus turun langsung melihat bukit-bukit yang botak, DAS yang rusak, dan desa-desa yang berada di hilir.
Jangan hanya menerima laporan yang dirapikan. Lihat dengan mata sendiri, rasakan tanah dengan telapak kaki sendiri.
Aparat penegak hukum pun harus berhenti pilih kasih.
Jangan hanya tegas kepada penambang kecil sambil memalingkan wajah dari cukong besar yang membeli perlindungan.
Hukum yang timpang bukan sekadar memalukan—tetapi mematikan.
Bencana adalah antrean. Dan antrean itu kini bergerak cepat.
Jika kita masih membiarkan hutan diperkosa, bukit ditelanjangi, dan sungai dipaksa menanggung lebih dari yang mampu ia tampung, maka kita sedang menulis undangan bagi bencana untuk datang.
Dan ketika itu tiba, tidak ada lagi kata andaikan.
Tidak ada lagi kata seharusnya. Yang ada hanyalah penyesalan.
Bangka Belitung masih punya kesempatan. Masih punya waktu. Tetapi waktu itu semakin pendek.
Untuk pemerintah, penegak hukum, dan masyarakat yang masih berdiam, maka SEKARANG adalah saatnya. Bukan esok. Bukan nanti.
Sebab air bah tidak menunggu kita siap.
Ia datang ketika kita lengah—dan ketika alam sudah terlalu kecewa untuk memberi peringatan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *