CERPEN

Jembatan yang Runtuh di Antara Hidup dan Mimpi

×

Jembatan yang Runtuh di Antara Hidup dan Mimpi

Sebarkan artikel ini

Aku mulai gelisah. Jantungku berdebar tanpa suara. Aku menyentuh tubuhku sendiri—tangan, wajah, dada—mencari sesuatu yang tak dapat kupahami.

Apakah aku sudah mati?

Pertanyaan itu menggantung di udara, berputar-putar di kepalaku. Aku menatap rumahku sendiri seperti orang asing. Mereka yang kucintai berada di depan mataku, tetapi tak seorang pun menyadari kehadiranku.

Beginikah rasanya menjadi orang yang telah mati?

Aku terdiam lama.

Lalu perlahan aku bergumam, hampir tanpa suara, seolah mengakui kenyataan yang tak bisa kutolak.

“Iya… mungkin aku sudah mati.”

Pasrah mulai merayap di dalam dada. Seperti ombak yang pelan-pelan menenggelamkan pantai, keyakinan itu mengisi pikiranku.

Dan tepat di ujung kepasrahan itu—

aku terbangun.

Napas tersengal, keringat dingin membasahi tubuhku. Langit-langit kamar tampak nyata. Suara sahur terdengar samar dari kejauhan.

Aku memandang sekeliling.

Istriku tertidur di sampingku. Anak-anakku masih terlelap di kamar mereka.

Ternyata… semua itu hanya mimpi.

Mimpi panjang di sebuah malam sunyi di bulan Ramadan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *