By : Aswandi, ST, MM, C. Par
CERPEN, 15 RAMADAN 1447 H, LIPUTANSATU.COM —- Angin sore berembus pelan di atas jembatan tua yang mulai rapuh dimakan waktu. Kayu-kayu penyangganya lapuk, besi-besinya berkarat, sementara di bawahnya air mengalir deras di antara tebing curam dan tanah yang tergerus erosi. Dari kejauhan saja, jembatan itu sudah tampak berbahaya—seolah hanya menunggu waktu untuk menyerah pada bumi.
Aku bersandar di pinggirannya, memandangi aliran air yang tak pernah berhenti.
Tiba-tiba tanah di salah satu sisi bergeser. Retakan kecil menjalar cepat seperti ular yang merayap di tubuh jembatan. Dalam sekejap, tanah yang terkikis itu runtuh. Jembatan tua itu roboh, menyeret tubuhku jatuh bersama puing-puing kayu dan tanah ke dalam jurang yang terjal.
Segalanya gelap.
Di antara kabut kesadaran, satu pertanyaan berputar-putar di kepalaku: hidup atau mati?
Entah bagaimana, aku bangkit. Tubuhku terasa ringan, seakan tidak pernah jatuh. Aku berjalan menyusuri dasar jurang, memandang sekitar dengan bingung. Lalu perlahan aku memanjat lereng curam itu, berpegangan pada tanah dan akar yang mencuat hingga akhirnya sampai kembali ke permukaan—ke jalan dan jembatan yang tadi runtuh.
Aneh.
Tak ada luka. Tak ada rasa sakit.
Aku berjalan pulang dengan perasaan ganjil yang tak mampu kujelaskan.
Di rumah, istriku sedang duduk seperti biasa. Anak-anakku bermain di ruang depan. Suasana terasa begitu akrab, begitu hidup. Aku tersenyum lega dan mendekat.
“Istriku…” panggilku pelan.
Tanganku menyentuh bahunya.
Namun ia tidak bereaksi.
Aku memanggil anak-anakku. Suaraku menggema di ruangan yang sama, tetapi mereka tetap bermain seperti tidak ada siapa-siapa di sana. Tidak ada mata yang menoleh. Tidak ada tangan yang menyambut.
Semua terasa hampa.
