Cerita serupa datang dari Merlia, ibu dari Rifki (11). Ia mengaku memang sengaja menunggu pelaksanaan khitanan massal PT TIMAH karena biaya khitan secara mandiri cukup besar.
“Tidak ada rencana mengikuti khitanan di luar karena tahu biayanya, makanya saya menunggu khitanan massal ini. Abangnya Rifki dulu juga ikut kegiatan ini,” katanya.
Bagi Merlia, program ini bukan hanya membantu secara ekonomi, tetapi juga menjadi bukti kepedulian perusahaan terhadap masyarakat di sekitar wilayah operasionalnya.
Sekretaris Kecamatan Belinyu, Agus Rafina, menyebut tingginya minat masyarakat menjadi indikator bahwa program sosial seperti ini sangat dinantikan.
“Masyarakat sangat antusias, terlihat dari banyaknya yang mendaftar. Anak-anak juga senang mengikuti kegiatan ini, apalagi mendapatkan suvenir,” ujarnya.
Meski sempat diwarnai tangisan beberapa peserta yang tertular rasa takut dari teman-temannya, seluruh rangkaian kegiatan berlangsung aman dan lancar. Suasana haru itu akhirnya berubah menjadi kebahagiaan ketika satu per satu anak keluar dari ruang tindakan dengan wajah lega dan senyum mengembang.
Melalui khitanan massal ini, PT TIMAH kembali menunjukkan bahwa perjalanan 50 tahun perusahaan tidak hanya diwarnai capaian bisnis, tetapi juga komitmen untuk terus hadir di tengah masyarakat, berbagi manfaat, memperkuat kepedulian sosial, dan menumbuhkan sinergi yang berkelanjutan bersama pemerintah daerah dan warga.












