“Riset ini perlu dan kami bersyukur Universitas Bangka Belitung siap untuk bekerja sama. Tahun depan akan dimulai groundbreaking,” ujar dia.
Menurut Harwendro, timah Bangka Belitung menurut data pemerintah diprediksi akan habis pada 25 sampai 30 mendatang. Namun, kata dia, itu bukan hal yang perlu dikhawatirkan karena umur timah bisa diperpanjang dengan terus melakukan eksplorasi dengan membuka sumur baru di daerah yang masih ada timah.
“Timah ini ditambang sejak tahun 1800an. Sampai hari ini tidak habis-habis karena katanya timah beranak cucu disini. Tapi kenyataannya memang begitu. Artinya cadangan kita masih banyak dan masih bisa terus dikembangkan dengan membuka sumur baru yang memiliki potensi,” ujar dia.
Tantangan yang dihadapi industri pertambangan timah, kata Harwendro, adalah aktivitas penyelundupan yang membuat Indonesia kehilangan pendapatan dari sektor pajak dan Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP), seperti royalti.
“Sumber daya alam timah kita lari ke negara lain itu benar. Bahkan sewaktu saya menghadiri konferensi timah internasional di Penang Malaysia, orang dari Malaysia Smelting Company bilang bahwa mereka menerima pasokan timah Indonesia 1.000 ton hingga 1.200 ton per bulan. Bagaimana darah saya tidak mendidih mendengarkannya,” ujar dia.
Laporan tersebut, kata Harwendro, dia sampaikan ke Presiden Prabowo Subianto dan langsung ditindaklanjuti dengan penangkapan para penyelundup. Imbas positifnya, kata dia, produksi timah Indonesia mulai meningkat dan target ekspor 54 ribu ton timah pada tahun ini diprediksi akan tercapai.












