Ia juga menyoroti lemahnya pengawasan yang berpotensi membuka celah perubahan status lahan, terutama saat terjadi pergantian kepemimpinan di tingkat desa.
Menjawab berbagai sorotan tersebut, Dedi L memaparkan sejumlah capaian dan strategi. Salah satunya penanaman pohon nyatoh di Desa Air Batu Buding sebagai bagian dari rehabilitasi lingkungan.
Selain itu, KPH juga mulai mengoptimalkan potensi PNBP, termasuk dari sawit keterlanjuran, serta menata kawasan HTI melalui skema kemitraan.
“Kami juga mengelola kawasan 200 hektare yang telah berubah status menjadi HPL sesuai SK Menteri. Dari sini, kami dorong peningkatan PAD,” jelasnya.
Meski demikian, ia menekankan pentingnya dukungan lintas sektor agar program berjalan maksimal.
“Ini tidak bisa kami lakukan sendiri. Perlu dukungan legislatif, eksekutif, dan yudikatif agar pengelolaan hutan lebih bertanggung jawab,” ungkapnya.
Kunjungan ini menegaskan satu hal: masa depan hutan Babel ditentukan oleh keseriusan hari ini—antara komitmen, pengawasan, dan keberanian mengambil langkah tegas.












