“Kami berharap ini menjadi perhatian serius dan penting untuk diperjuangkan,” tegas Atet.
Dalam kegiatan tersebut turut hadir perangkat Desa Mapur, yakni Rio selaku Sekretaris Desa, Kepala Dusun Puntik Kodri, serta Erik selaku Babin Desa Mapur.
Di hadapan warga, Imam Wahyudi tidak mencoba menutupi beratnya persoalan yang disampaikan. Ia justru menyatakan bahwa reses adalah ruang untuk mendengar langsung suara masyarakat.
“Saya di periode pertama ini sebagai Anggota DPRD Babel dari Fraksi PDIP merasa bersyukur dan senang bisa turun ke Dusun Puntik ini. Saya ingin mendengar dan menyerap aspirasi Bapak Ibu semua,” kata Imam.
Imam kemudian menyampaikan kalimat yang sederhana, tetapi penting di tengah kekecewaan warga.
“Saya tidak mau berjanji. Tetapi sebagai pelayan rakyat, saya akan serius bekerja memperjuangkan kepada Pemerintah Provinsi Babel terkait aspirasi Bapak Ibu semua,” tegasnya.
Bagi warga Puntik, mungkin janji baru bukanlah yang mereka cari. Mereka hanya ingin ada wakil rakyat yang datang ketika membutuhkan suara mereka, tetapi juga tetap hadir setelah suara itu diberikan.
Karena bagi masyarakat, perjuangan bukan diukur dari seberapa indah sebuah janji disampaikan, melainkan dari seberapa jauh janji itu diperjuangkan menjadi kenyataan.
“Doakan saya, Bapak Ibu, dalam usaha memperjuangkan aspirasi tersebut,” tutup Imam.













