Sementara narasumber yang hadir yakni Presiden Direktur Pintu Andy Putra, Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Rifki Ismail, Asisten Manager Bagian Pengawasan Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi dan Perlindungan Konsumen M. Nizam, serta Head of DigiCoreTech Haiqal.
Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Program Studi Bisnis Digital UBB angkatan 2024–2025 menjadi bagian dari peserta seminar.
Di hadapan generasi yang akan berhadapan langsung dengan ekonomi digital tersebut, pembahasan tidak hanya menyentuh perkembangan aset kripto, tetapi juga teknologi, regulasi dan perlindungan konsumen.
Bardian mengatakan, kehadiran berbagai unsur dalam kegiatan tersebut memiliki arti penting.
“Bank Indonesia menjaga stabilitas moneter, OJK melindungi masyarakat dari risiko keuangan, Pintu membawa pengalaman nyata dari dunia kripto, dan akademisi memberikan perspektif keilmuan,” jelasnya.
Ia berharap mahasiswa tidak mudah menjadikan media sosial sebagai satu-satunya sumber pengetahuan ketika berbicara mengenai aset kripto.
Informasi yang cepat beredar harus diimbangi kemampuan untuk memeriksa, memahami dan mempertimbangkan risiko sebelum mengambil keputusan.
“Harapan kita sederhana. Para peserta dan masyarakat Bangka Belitung bisa semakin melek digital, semakin bijak dalam memahami aset kripto, dan semakin siap menghadapi tantangan ekonomi masa depan,” ujarnya.
Wakil Rektor III UBB Dr. Hamsani, S.E., M.Sc., menyambut baik kegiatan tersebut. Menurutnya, tema ekonomi digital memiliki relevansi kuat dengan mahasiswa karena teknologi telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari sekaligus perkembangan ekonomi.
Bagi SMSI Babel, kegiatan ini bukan sekadar forum berbicara tentang kripto.
Lebih jauh, seminar tersebut menjadi bagian dari ikhtiar membangun masyarakat yang tidak mudah terpukau oleh kemajuan teknologi, tetapi mampu memahami konsekuensi di baliknya.
Sebab, ketika investasi semakin mudah dilakukan hanya melalui layar ponsel, yang harus semakin kuat bukan hanya aksesnya, tetapi juga pengetahuannya.
Teknologi boleh melaju cepat. Namun keputusan tetap harus lahir dari literasi, bukan sekadar ikut-ikutan.












