Namun yang membuat suasana reses berbeda adalah respons cepat Imam Wahyudi. Tidak sekadar menerima aspirasi, ia langsung menelepon Bupati Bangka dan pimpinan Komisi II di hadapan masyarakat untuk membicarakan persoalan yang disampaikan warga.
Terkait persoalan batas wilayah, CSR, dan bantuan bibit sawit, Evi menegaskan bahwa seluruh aspirasi akan diperjuangkan. Bahkan untuk bantuan bibit sawit, pihak desa diminta segera mengajukan proposal resmi agar bisa ditindaklanjuti.
Sementara untuk persoalan jalan, Imam Wahyudi langsung menghubungi Dinas PUPR melalui Arifiyanto, ST, MT. Menurut Arif, pemerintah tetap akan menganggarkan perbaikan jalan, meski dilakukan secara bertahap sesuai kemampuan anggaran daerah.
Imam Wahyudi juga memastikan dirinya akan memperjuangkan kebutuhan lain masyarakat, termasuk akses internet, penguatan digitalisasi desa, pendidikan, hingga bantuan beasiswa.
Respons cepat itu membuat warga merasa puas dan diperhatikan. Tepuk tangan meriah beberapa kali pecah di lokasi kegiatan.
“Beliau langsung bergerak, langsung telepon pihak terkait. Kami jadi yakin aspirasi ini benar-benar diperjuangkan,” ujar salah satu warga.
Bagi masyarakat Kotawaringin, sosok Imam Wahyudi dinilai bukan sekadar wakil rakyat yang datang saat reses, tetapi figur yang dekat dengan masyarakat dan mau mendengar persoalan rakyat secara langsung.
Tak heran, kegiatan reses yang berlangsung di halaman Kantor Desa Kotawaringin itu dipenuhi warga dan ditutup dengan suasana penuh optimisme serta aplaus panjang dari masyarakat.












